Perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pemula di Desa Paok Pampang, Lombok Timur, menjadi salah satu alternatif mata pencaharian di tengah ketidakpastian ekonomi, khususnya bagi lulusan perguruan tinggi dan sekolah menengah yang belum memperoleh pekerjaan. Meskipun memiliki potensi pasar, pelaku UMKM masih menghadapi keterbatasan dalam membaca kebutuhan pasar secara berkelanjutan, memahami daya beli konsumen yang disasar, dan membedakan tren sesaat dengan permintaan yang berpotensi berkelanjutan. Kondisi tersebut menjadi penting karena sebagian produk menyasar konsumen Generasi Z yang responsif terhadap tren dan fenomena FOMO. Di sisi lain, pengelolaan keuangan usaha belum terstruktur, terutama dalam pencatatan transaksi, identifikasi biaya, perhitungan laba, penentuan harga, dan pemantauan arus kas. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan meningkatkan kemampuan mitra dalam membaca potensi pasar serta mengintegrasikan informasi pasar dengan analisis biaya, laba, dan arus kas sebagai dasar pengambilan keputusan usaha. Metode kegiatan terdiri atas empat tahapan, yaitu (1) persiapan dan identifikasi kebutuhan, (2) pelaksanaan pelatihan, (3) penerapan dan pendampingan, serta (4) monitoring dan evaluasi. Materi meliputi identifikasi kebutuhan dan daya beli pasar, pemahaman karakteristik konsumen, pencatatan transaksi sederhana, identifikasi dan analisis biaya, perhitungan laba, serta pengelolaan arus kas. Kegiatan dilaksanakan pada Sabtu, 1 Agustus 2026 kepada dua pelaku UMKM secara individual pada waktu yang berbeda, yaitu pukul 09.30–12.00 WITA dan 16.30–18.15 WITA, dengan materi dan praktik yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing usaha. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan praktis mitra dalam menghubungkan kondisi pasar dengan pengelolaan keuangan usaha. Mitra mampu mengidentifikasi komponen biaya usaha, melakukan pencatatan transaksi secara lebih terstruktur, memahami hubungan antara biaya, harga jual, dan laba, serta mengenali pentingnya pemantauan arus kas untuk menjaga keberlangsungan usaha. Dalam pembahasan pengembangan produk, mitra juga mampu mengevaluasi peluang produk berdasarkan kesesuaian dengan kebutuhan dan daya beli konsumen serta mempertimbangkan keberlanjutan permintaan sebelum mengikuti tren. Bagi tim/pemberi materi, kegiatan menghasilkan pengalaman empiris dalam mengidentifikasi kesenjangan literasi keuangan UMKM pemula dan menyesuaikan materi analisis biaya, laba, dan arus kas dengan karakteristik usaha mitra, sehingga diperoleh masukan untuk pengembangan model pendampingan yang lebih kontekstual dan aplikatif. Pendampingan dan format pencatatan sederhana selanjutnya menjadi instrumen pendukung agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan secara berkelanjutan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa integrasi pemahaman pasar dan literasi keuangan dapat memperkuat kapasitas UMKM pemula dalam menghadapi dinamika pasar dan ketidakpastian ekonomi.
Copyrights © 2026