Artikel ini mengkaji relevansi kearifan lokal sebagai alternatif penyelesaian konflik antar-etnis melalui studi terhadap tafsir al-Qur'an berbahasa Sunda, dengan fokus pada Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun karya Moh. E. Hasim (1916–2009). Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitik, bertumpu pada Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun sebagai sumber primer serta didukung oleh berbagai literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Moh. E. Hasim mengintegrasikan nilai-nilai budaya Sunda dalam penafsiran QS. al-Ḥujurāt [49]:13 melalui penekanan pada prinsip kesetaraan, penghargaan terhadap keberagaman, dan pentingnya saling mengenal antarkelompok. Penafsiran tersebut tidak hanya merepresentasikan pemaknaan tekstual terhadap ayat, tetapi juga mengontekstualisasikan ajaran Islam dengan kearifan lokal sebagai landasan etika sosial. Dengan demikian, tafsir ini menawarkan model interpretasi yang berkontribusi dalam penguatan kohesi sosial serta menjadi alternatif konseptual untuk merespons konflik antar-etnis dan krisis kemanusiaan di tengah masyarakat multikultural. Penelitian ini menegaskan signifikansi tafsir lokal dalam membangun kehidupan yang harmonis dalam keberagaman serta membuka peluang bagi kajian komparatif terhadap tafsir al-Qur'an berbahasa daerah lainnya.
Copyrights © 2026