Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi kultural patriarki dalam film Air Mata di Ujung Sajadah karya Rony Irawan serta menelaah relevansinya sebagai bahan ajar sastra di tingkat SMA. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis dengan perspektif budaya, yang memosisikan film sebagai teks multimodal yang merepresentasikan konstruksi sosial dan ideologi gender. Data penelitian berupa dialog, adegan, dan unsur visual yang merepresentasikan relasi kuasa patriarkal, dikumpulkan melalui teknik menonton dan pencatatan data. Analisis data dilakukan dengan mengacu pada teori patriarki Sylvia Walby, yang difokuskan pada empat struktur patriarki, yaitu produksi rumah tangga, budaya, pekerjaan berbayar, dan reproduksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa patriarki dalam film ini bekerja secara sistemik dan terlembaga melalui legitimasi moral keluarga, norma budaya, otoritas institusional, serta kontrol atas reproduksi, yang secara konsisten menghapus agensi keibuan tokoh Aqilla. Patriarki direpresentasikan tidak melalui kekerasan fisik yang eksplisit, melainkan melalui kekerasan simbolik, manipulasi informasi, stigma sosial, dan bahasa yang dinormalisasi dalam relasi keluarga dan institusi sosial. Temuan penelitian ini memiliki relevansi pedagogis karena film Air Mata di Ujung Sajadah sejalan dengan Capaian Pembelajaran Bahasa Indonesia Fase E (kelas X SMA) dalam Kurikulum Merdeka, khususnya pada elemen menyimak dan memirsa serta membaca dan memirsa, yaitu kemampuan peserta didik untuk menganalisis makna, nilai, pesan, dan isu sosial dalam teks sastra maupun teks multimodal secara kritis serta merefleksikannya dalam konteks kehidupan sosial dan budaya. Dengan demikian, film ini berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan ajar sastra yang kontekstual dan reflektif di SMA untuk mengembangkan kemampuan analisis kritis serta kepekaan sosial peserta didik.
Copyrights © 2026