Pembentukan karakter pada masa kanak-kanak memerlukan lingkungan belajar yang memadukan pembinaan moral dengan pengalaman langsung yang bermakna, khususnya dalam konteks pendidikan keagamaan. Artikel pengabdian kepada masyarakat ini mendeskripsikan pelaksanaan program pengembangan karakter anak melalui kegiatan Sekolah Minggu Buddha di Vihara Maha Manggala, Medan, serta mengkaji bagaimana pembelajaran partisipatif berbasis pengalaman dapat memperkuat disiplin dan cinta kasih (mettā) pada anak Buddhis. Program dilaksanakan pada 19 April–28 Juni 2026, melibatkan 30 anak dan remaja, melalui tujuh rangkaian kegiatan: perkenalan, persiapan Waisak, mengikuti kegiatan Waisak, pemaparan materi disiplin, pemaparan materi cinta kasih, praktik cinta kasih, dan penutupan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan partisipatif, dengan data diperoleh melalui observasi, dokumentasi, dan refleksi. Program ini didasarkan pada asumsi bahwa perpaduan pembelajaran dan pengalaman langsung dapat mendukung internalisasi nilai moral pada anak. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa persiapan dan pelaksanaan Waisak memperkuat disiplin dan tanggung jawab, sedangkan pemaparan dan praktik cinta kasih membantu anak memahami bahwa mettā perlu diwujudkan melalui tindakan sehari-hari, bukan sekadar konsep abstrak. Temuan ini menegaskan bahwa Sekolah Minggu Buddha dapat berfungsi tidak hanya sebagai sarana penyampaian materi keagamaan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter melalui pengalaman, keteladanan, interaksi, dan praktik nyata.
Copyrights © 2026