Fenomena religiusitas Muslim kontemporer menunjukkan paradoks: meningkatnya ekspresi ritual dan simbol keagamaan justru diiringi oleh degradasi moral sosial seperti korupsi, intoleransi, dan lemahnya etika publik. Penelitian ini bertujuan menganalisis paradoks tersebut dengan menempatkan akhlak sebagai indikator autentisitas keberagamaan. Kajian literatur mengintegrasikan perspektif lokal, internasional, dan klasik Islam. Temuan global tentang religiosity–morality gap menunjukkan bahwa religiusitas tidak selalu berbanding lurus dengan komitmen etis, sementara tokoh klasik seperti al-Ghazali dan Ibnu Miskawaih menekankan pentingnya pembentukan karakter moral melalui internalisasi nilai. Fazlur Rahman menegaskan bahwa inti ajaran Islam adalah moralitas Qur’ani yang menuntun pembentukan masyarakat adil dan beradab. Analisis ini juga menyoroti tantangan era digital yang melahirkan religiusitas performatif serta lemahnya pendidikan akhlak yang berorientasi pada kognisi dan ritual semata. Novelty penelitian ini terletak pada model konseptual yang menempatkan akhlak sebagai inti keberagamaan, sehingga religiusitas tidak hanya dipahami sebagai kesalehan simbolik, tetapi sebagai transformasi moral nyata dalam kehidupan sosial. Penelitian ini diharapkan berkontribusi pada rekonstruksi religiusitas berbasis etika Islam yang relevan menghadapi modernitas dan budaya digital.
Copyrights © 2026