Kajian mengenai Nahwu Andalusia selama ini lebih banyak dipahami sebagai kelanjutan dari tradisi nahwu Baṣrah dan Kµfah, sehingga kontribusi epistemologisnya sering kali diposisikan sebagai pelengkap dalam historiografi linguistik Arab. Artikel ini bertujuan membaca ulang akar kemunculan dan nalar pemikiran Nahwu Andalusia melalui perspektif dialektika linguistik transversal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan serta pendekatan historis-intelektual dan epistemologi linguistik. Data diperoleh dari karya-karya ulama Nahwu Andalusia, seperti Al-Rad 'alā al-Nuḥāt, Alfiyyah Ibn Mālik, dan karya Abū Ḥayyān al-Andalusī, serta berbagai literatur ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, analisis historis-komparatif, dan analisis interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nahwu Andalusia lahir melalui proses transmisi, negosiasi, kritik, dan sintesis antara tradisi nahwu Baṣrah, Kµfah, dan Baghdād dengan konteks sosial-budaya Andalusia. Nalar pemikiran ulama Andalusia ditandai oleh kecenderungan menyederhanakan metodologi nahwu, mengurangi spekulasi teoretis, serta mengedepankan fungsi bahasa dan penggunaan kebahasaan yang nyata. Penelitian ini menawarkan konsep dialektika linguistik transversal sebagai perspektif baru untuk menjelaskan bahwa perkembangan Nahwu Andalusia tidak berlangsung secara linear melalui pewarisan mazhab, melainkan melalui interaksi lintas tradisi dan lintas epistemologi yang menghasilkan paradigma linguistik dengan identitas ilmiah tersendiri. Temuan ini memperkaya kajian historiografi linguistik Arab sekaligus memberikan kerangka analisis baru dalam memahami dinamika perkembangan ilmu nahwu.
Copyrights © 2026