Fenomena "Marriage is Scary" semakin marak di kalangan generasi Z Indonesia, termasuk mahasiswa IAIN Parepare, di mana pernikahan dipersepsikan sebagai ancaman terhadap kebebasan pribadi, stabilitas emosional, dan kemandirian finansial. Urgensi penelitian ini didasarkan pada penurunan drastis angka pernikahan nasional menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), dari sekitar 2,21 juta pada 2013 menjadi 1,58 juta pada 2023 dan sekitar 1,48 juta pada 2024, yang berdampak pada dinamika demografis, tingkat kelahiran, serta stabilitas keluarga masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah semi-urban seperti Parepare. Rumusan masalah mencakup manifestasi fenomena tersebut dalam persepsi mahasiswa, faktor psikososial utama seperti kecemasan komitmen, gamophobia, trauma pengalaman negatif, dan tekanan ekonomi-sosial, pengaruh media sosial dalam memperkuat narasi negatif, serta interaksi dengan nilai-nilai agama Islam tradisional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitik dengan metode fenomenologis dan sosiologis, data primer dari wawancara mendalam dan observasi terhadap 10-15 mahasiswa generasi Z aktif IAIN Parepare (usia 18-25 tahun), serta data sekunder dari literatur dan konten media sosial. Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena "Marriage is Scary" bermanifestasi kuat melalui sikap skeptis dan penundaan pernikahan, didorong oleh faktor psikososial dominan serta amplifikasi narasi negatif di TikTok dan Instagram. Interaksi dengan nilai Islam menciptakan dilema ambivalen, meskipun sebagian mahasiswa mengembangkan strategi adaptif. Kesimpulan menegaskan perlunya pendidikan pra-nikah kontekstual dan literasi media di perguruan tinggi Islam untuk menyeimbangkan pengaruh digital dengan ajaran agama, guna mengurangi dampak fenomena ini terhadap tren penurunan pernikahan nasional.
Copyrights © 2025