Abortus iminens merupakan kondisi perdarahan pada awal kehamilan yang terjadi sebelum usia kehamilan 20 minggu dengan keadaan serviks masih tertutup dan janin masih berada di dalam uterus. Salah satu terapi yang umum digunakan untuk mempertahankan kehamilan pada kondisi tersebut adalah pemberian hormon progesteron. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan hormon progesteron terhadap outcome terapi pada pasien abortus iminens di Klinik Utama Ascott Medika Jambi Tahun 2025 Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Data diperoleh dari rekam medis pasien abortus iminens periode Januari–Desember 2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 95 rekam medis yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher Exact Test dengan tingkat kepercayaan 95% (?=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berada pada kelompok usia 20–35 tahun sebanyak 46 responden (48,42%) dan usia kehamilan terbanyak yaitu 8–10 minggu sebanyak 35 responden (36,84%). Lama terapi progesteron yang paling banyak digunakan adalah 8–14 hari sebanyak 41 responden (43,16%) dan seluruh pasien menggunakan progesteron melalui rute oral. Outcome terapi menunjukkan sebagian besar pasien mengalami keberhasilan terapi sebanyak 90 responden (94,74%). Hasil uji Fisher Exact Test menunjukkan nilai p-value sebesar 0,018 (p<0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara penggunaan hormon progesteron dengan outcome terapi pada pasien abortus iminens. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan hormon progesteron memiliki hubungan terhadap keberhasilan terapi pada pasien abortus iminens sehingga dapat membantu mempertahankan kehamilan.
Copyrights © 2026