Permasalahan kualitas beton menjadi tantangan utama dalam pembangunan Tower 3 ITS, di mana metode konvensional sering menghasilkan beton keropos dan tulangan yang terekspos. Peristiwa tersebut tidak hanya menurunkan mutu struktur, tetapi juga berpotensi menyebabkan pembengkakan biaya dan keterlambatan proyek akibat pekerjaan perbaikan. Sebagai solusi, penelitian ini mengkaji Hollow Core Slab (HCS) sebagai alternatif pelat konvensional. HCS dipilih karena dianggap lebih unggul dalam hal mutu, kecepatan pemasangan, serta efisiensi tenaga kerja dan material. Selain itu, penggunaan HCS diharapkan dapat mengurangi limbah material konstruksi di lapangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan komparatif, di mana data primer dan sekunder dikumpulkan untuk menghitung volume pekerjaan, waktu pelaksanaan, biaya, dan limbah material dari kedua metode. Data kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak penjadwalan proyek dan analisis produktivitas. Hasil penelitian menunjukkan metode HCS mempercepat waktu pengerjaan proyek menjadi 307 hari, 2,56% lebih cepat dibanding metode konvensional yang membutuhkan 315 hari. Pada segi biaya, HCS membutuhkan Rp 22.960.906.082,31, sekitar 2,89% lebih tinggi daripada metode konvensional yang biayanya Rp 22.298.445.817,84. Namun, penghematan paling signifikan terlihat pada pengurangan limbah material. HCS secara drastis mengurangi limbah pembesian sebesar 88,67%, limbah bekisting sebesar 83,7%, dan limbah pengecoran sebesar 93,91% dibandingkan metode konvensional. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun membutuhkan biaya awal yang sedikit lebih besar, penggunaan Hollow Core Slab menawarkan efisiensi waktu dan pengurangan limbah material yang signifikan, menjadikannya pilihan yang layak untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan proyek konstruksi.
Copyrights © 2025