Bandung Conference Series : Medical Science
751-756

Identifikasi Bakteri Penyebab Infeksi Sekunder Skabies di Pondok Pesantren Nurul Huda

Syafira Labibah Wakhid (Prodi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung, Indonesia)
Yani Triyani (Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung)
Winni Maharani Mauliani (Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung)



Article Info

Publish Date
30 Nov -0001

Abstract

Abstract. Scabies is a contagious skin disease that remains a health problem in developing countries and is often accompanied by secondary bacterial infections that contribute to morbidity and the risk of antimicrobial resistance. This study aims to determine the percentage of scabies and secondary scabies infections and to identify the bacteria causing secondary infections in students at the Nurul Huda Islamic Boarding School, Cidadap District. The study design was descriptive observational with a purely experimental in vitro approach in 38 students with secondary infected scabies who met the inclusion criteria. Pus specimens were collected using sterile cotton swabs, incubated in Triptic Soy Broth (TSB) medium, then cultured on Blood Agar and MacConkey medium for bacterial identification through Gram staining, catalase, and coagulase tests. The result of the study on 83 students at Nurul Huda Islamic Boarding School showed that the highest incidence of scabies was in males (47 cases) and those aged 12-18 (68 cases), with secondary infection reaching 38 cases, predominantly in males (31 cases), at the junior high school level (25 cases). Gram staining identified 38 Gram-positive cocci, 19 Gram-positive bacilli, and 19 Gram-negative bacilli. Meanwhile, positive catalase (30 samples) and coagulase (32 samples) tests indicated the dominance of Staphylococci as the main case. This occurs because scratching the scabies lesions trigger the normal skin flora to cause a secondary infection. Abstrak. Skabies merupakan penyakit kulit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di negara berkembang dan sering disertai infeksi bakteri sekunder yang berkontribusi terhadap morbiditas dan risiko resistensi antimikroba. Penelitian ini bertujuan mengetahui persentase kejadian skabies dan infeksi sekunder skabies serta mengidentifikasi bakteri penyebab infeksi sekunder pada santri Pondok Pesantren Nurul Huda, Kecamatan Cidadap. Desain penelitian adalah observasional deskriptif dengan pendekatan eksperimental murni secara in vitro pada 38 santri dengan skabies berinfeksi sekunder yang memenuhi kriteria inklusi. Spesimen pus diambil menggunakan cotton swab steril, diinkubasi dalam media Triptic Soy Broth (TSB), kemudian ditanam pada media Blood Agar dan MacConkey untuk identifikasi bakteri melalui pewarnaan Gram, uji katalase, dan koagulase. Hasil penelitian pada 83 santri di Pondok Pesantren Nurul Huda menunjukkan kejadian skabies paling tinggi pada laki-laki (47 kasus) dan usia 12-18 tahun (68 kasus) dengan infeksi sekunder mencapai 38 kasus yang didominasi laki-laki (31 kasus) pada tingkat SMP (25 kasus). Pewarnaan Gram mengidentifikasi 38 coccus Gram positif, 19 basil Gram positif, dan 19 basil Gram negatif. Sementara uji katalase positif (30 sampel) dan koagulase positif (32 sampel) mengindikasikan dominasi Stapylococci sebagai penyebab utama. Hal ini terjadi karena adanya garukan pada lesi skabies yang memicu flora normal kulit menjadi penyebab infeksi sekunder yang teridentifikasi..

Copyrights © 0000






Journal Info

Abbrev

BCSMS

Publisher

Subject

Humanities Medicine & Pharmacology Nursing Public Health

Description

Bandung Conference Series: Medical Science (BCSMS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Kedokteran dengan ruang lingkup Age, ASI, BPJS Kesehatan, CGT, Dokter layanan primer, Fungsi diastolic, Gender, Hepatitis A dan B, Interval Anak Balita, ...