Winni Maharani Mauliani
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Identifikasi Bakteri Penyebab Infeksi Sekunder Skabies di Pondok Pesantren Nurul Huda Syafira Labibah Wakhid; Yani Triyani; Winni Maharani Mauliani
Bandung Conference Series: Medical Science 751-756
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22375

Abstract

Abstract. Scabies is a contagious skin disease that remains a health problem in developing countries and is often accompanied by secondary bacterial infections that contribute to morbidity and the risk of antimicrobial resistance. This study aims to determine the percentage of scabies and secondary scabies infections and to identify the bacteria causing secondary infections in students at the Nurul Huda Islamic Boarding School, Cidadap District. The study design was descriptive observational with a purely experimental in vitro approach in 38 students with secondary infected scabies who met the inclusion criteria. Pus specimens were collected using sterile cotton swabs, incubated in Triptic Soy Broth (TSB) medium, then cultured on Blood Agar and MacConkey medium for bacterial identification through Gram staining, catalase, and coagulase tests. The result of the study on 83 students at Nurul Huda Islamic Boarding School showed that the highest incidence of scabies was in males (47 cases) and those aged 12-18 (68 cases), with secondary infection reaching 38 cases, predominantly in males (31 cases), at the junior high school level (25 cases). Gram staining identified 38 Gram-positive cocci, 19 Gram-positive bacilli, and 19 Gram-negative bacilli. Meanwhile, positive catalase (30 samples) and coagulase (32 samples) tests indicated the dominance of Staphylococci as the main case. This occurs because scratching the scabies lesions trigger the normal skin flora to cause a secondary infection. Abstrak. Skabies merupakan penyakit kulit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di negara berkembang dan sering disertai infeksi bakteri sekunder yang berkontribusi terhadap morbiditas dan risiko resistensi antimikroba. Penelitian ini bertujuan mengetahui persentase kejadian skabies dan infeksi sekunder skabies serta mengidentifikasi bakteri penyebab infeksi sekunder pada santri Pondok Pesantren Nurul Huda, Kecamatan Cidadap. Desain penelitian adalah observasional deskriptif dengan pendekatan eksperimental murni secara in vitro pada 38 santri dengan skabies berinfeksi sekunder yang memenuhi kriteria inklusi. Spesimen pus diambil menggunakan cotton swab steril, diinkubasi dalam media Triptic Soy Broth (TSB), kemudian ditanam pada media Blood Agar dan MacConkey untuk identifikasi bakteri melalui pewarnaan Gram, uji katalase, dan koagulase. Hasil penelitian pada 83 santri di Pondok Pesantren Nurul Huda menunjukkan kejadian skabies paling tinggi pada laki-laki (47 kasus) dan usia 12-18 tahun (68 kasus) dengan infeksi sekunder mencapai 38 kasus yang didominasi laki-laki (31 kasus) pada tingkat SMP (25 kasus). Pewarnaan Gram mengidentifikasi 38 coccus Gram positif, 19 basil Gram positif, dan 19 basil Gram negatif. Sementara uji katalase positif (30 sampel) dan koagulase positif (32 sampel) mengindikasikan dominasi Stapylococci sebagai penyebab utama. Hal ini terjadi karena adanya garukan pada lesi skabies yang memicu flora normal kulit menjadi penyebab infeksi sekunder yang teridentifikasi..
Stigma dan Diskriminasi Sosial Terhadap Pasien Tuberkulosis di Kabupaten Bandung Kavin Abdurrahiem; Fajar Awalia Yulianto; Winni Maharani Mauliani
Bandung Conference Series: Medical Science 847-852
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22406

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) remains one of the major public health problems in Indonesia, and Bandung Regency is one of the areas with a high incidence of TB. In addition to medical problems, social stigma and discrimination against TB patients are still common and can affect patients’ psychological conditions, social interactions, and treatment adherence. This study aimed to describe social stigma and discrimination against TB patients in Bandung Regency in 2025. This study was a qualitative study with a descriptive approach. Data were collected through online Triaadiv Interview conducted in the working areas of Paseh and Soreang Community Health Centers, involving TB patients, family members of TB patients, and community members and health cadres. Informants were selected using purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria. Triadic Interview data were transcribed verbatim and analyzed using thematic analysis through open coding, axial coding, and selective coding. The results showed that TB is still perceived as a dangerous, contagious, and shameful disease, leading to social stigma and discrimination against TB patients. Forms of stigma and discrimination included social exclusion, restricted interaction, separation of eating utensils and personal belongings, and limitations on patients’ social activities. Stigma and discrimination affected patients’ psychological conditions, such as feelings of shame, low self-esteem, and social withdrawal. This study concludes that stigma and discrimination against TB patients still occur in Bandung Regency and that joint efforts involving families, communities, health cadres, and the government are needed to reduce stigma and discrimination against TB patients. Abstrak. Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia dan Kabupaten Bandung merupakan salah satu wilayah dengan angka kejadian TB yang tinggi. Selain permasalahan medis, stigma dan diskriminasi sosial terhadap pasien TB masih sering terjadi dan dapat memengaruhi kondisi psikologis pasien, interaksi sosial, serta kepatuhan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan stigma sosial dan diskriminasi terhadap pasien TB di Kabupaten Bandung tahun 2025. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui Triadic Interview secara daring di wilayah kerja Puskesmas Paseh dan Puskesmas Soreang dengan melibatkan pasien TB, keluarga pasien TB, serta masyarakat dan kader kesehatan. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Data Triadic Interview ditranskrip secara verbatim dan dianalisis menggunakan analisis tematik melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TB masih dipersepsikan sebagai penyakit yang berbahaya, menular, dan memalukan sehingga memunculkan stigma dan diskriminasi sosial terhadap pasien TB. Bentuk stigma dan diskriminasi yang ditemukan meliputi pengucilan sosial, pembatasan interaksi, pemisahan alat makan dan barang pribadi, serta pembatasan aktivitas sosial pasien. Stigma dan diskriminasi tersebut berdampak pada kondisi psikologis pasien, seperti rasa malu, rendah diri, dan penarikan diri dari lingkungan sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB masih terjadi di Kabupaten Bandung dan diperlukan upaya bersama yang melibatkan keluarga, masyarakat, kader kesehatan, serta pemerintah untuk mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB.