Publish Date
30 Nov -0001
Abstract. Erectile dysfunction is a common male sexual disorder and has been closely associated with cardiovascular diseases, particularly coronary artery disease (CAD). Atherosclerosis, the underlying pathophysiology of CAD, is a systemic process that may impair penile blood flow; therefore, the severity of coronary artery stenosis is presumed to be related to the severity of erectile dysfunction. This study aimed to compare the occurrence and severity of erectile dysfunction based on the degree of coronary artery stenosis in patients with CAD. This study was an analytic observational study with a cross-sectional design conducted at Al-Ihsan General Hospital, Bandung, in October 2025. A total of 48 adult male patients with CAD were included and categorized into significant CAD (stenosis ≥50%) and non-significant CAD (stenosis <50%) based on coronary angiography findings. Erectile dysfunction severity was assessed using the International Index of Erectile Function-5 (IIEF-5) questionnaire. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the Kruskal–Wallis test. The results showed that erectile dysfunction was prevalent among CAD patients with varying degrees of severity. Patients with significant CAD tended to have more severe erectile dysfunction compared to those with non-significant CAD, with a statistically significant difference (p = 0.001). These findings indicate that increasing severity of coronary artery stenosis is associated with more severe erectile dysfunction. In conclusion, there is a significant difference in erectile dysfunction severity based on the degree of coronary artery stenosis in CAD patients, suggesting that erectile dysfunction may serve as a clinical indicator of systemic vascular impairment. Abstrak. Disfungsi ereksi merupakan gangguan fungsi seksual yang sering dijumpai pada pria dan diketahui memiliki keterkaitan erat dengan penyakit kardiovaskular, khususnya coronary artery disease (CAD). Aterosklerosis sebagai dasar patofisiologi CAD bersifat sistemik dan dapat memengaruhi aliran darah ke organ genital, sehingga derajat keparahan stenosis arteri koroner diduga berhubungan dengan tingkat keparahan disfungsi ereksi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kejadian dan tingkat keparahan disfungsi ereksi berdasarkan derajat keparahan stenosis pada pasien CAD. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan di RSUD Welas Asih pada bulan Oktober 2025. Subjek penelitian berjumlah 48 pasien laki-laki dewasa dengan CAD yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu CAD signifikan (stenosis ≥50%) dan CAD non-signifikan (stenosis <50%) berdasarkan hasil coronary angiography. Tingkat disfungsi ereksi dinilai menggunakan kuesioner International Index of Erectile Function-5 (IIEF-5). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Kruskal–Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disfungsi ereksi ditemukan pada sebagian besar pasien CAD dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Pasien dengan CAD signifikan cenderung mengalami disfungsi ereksi yang lebih berat dibandingkan pasien dengan CAD non-signifikan, dan perbedaan tersebut bermakna secara statistik (P < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin berat derajat stenosis arteri koroner, semakin berat pula disfungsi ereksi yang dialami. Simpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan bermakna tingkat disfungsi ereksi berdasarkan derajat keparahan stenosis pada pasien CAD, sehingga disfungsi ereksi dapat dipertimbangkan sebagai indikator klinis gangguan vaskular sistemik.
Copyrights © 0000