Publish Date
30 Nov -0001
Abstract. Speech delay in preschool-aged children is a common developmental problem that may affect both academic performance and social functioning. This study aims to describe the characteristics of children aged 2–5 years with speech delay and the duration of their screen time exposure at Al-Islam Hospital Bandung in 2025. This research employed a quantitative descriptive observational design. The sample consisted of 76 children aged 2–5 years who visited the Growth and Development Clinic and the Pediatric Clinic, comprising 38 children with speech delay and 38 children without speech delay, selected through consecutive sampling based on the study criteria. Data on child characteristics (sex, age, birth order, number of family members, and socioeconomic status) and screen time duration were collected through structured interviews with parents, while speech delay was diagnosed by a physician. The results showed that most respondents were male (65.8%), with the highest proportion of children with speech delay being second-born (47.4%), coming from families with more than four members (60.5%), and having middle socioeconomic status. More than half of the children had excessive screen time exposure, defined as >1 hour per day (52.6%). These findings indicate that in the Al-Islam Hospital Bandung population, speech delay is relatively common and frequently occurs alongside high screen time exposure, underscoring the need for parental education on limiting screen time duration and enhancing verbal stimulation at home. Abstrak. Keterlambatan bicara pada anak usia prasekolah merupakan masalah tumbuh kembang yang masih sering dijumpai dan dapat berdampak pada kemampuan akademik maupun sosial anak. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik anak usia 2–5 tahun dengan keterlambatan bicara dan durasi paparan screen time di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif kuantitatif. Sampel berjumlah 76 anak usia 2–5 tahun yang berkunjung ke Poli Tumbuh Kembang dan Poli Anak, terdiri atas 38 anak dengan keterlambatan bicara dan 38 anak tanpa keterlambatan bicara, dipilih dengan consecutive sampling sesuai kriteria penelitian. Data karakteristik anak (jenis kelamin, usia anak, urutan kelahiran, jumlah anggota keluarga, dan status sosial ekonomi) serta durasi paparan screen time dikumpulkan melalui wawancara terstruktur kepada orang tua, sedangkan keterlambatan bicara ditegakkan oleh dokter. Hasil menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (65,8%), kelompok keterlambatan bicara paling banyak berasal dari urutan kelahiran kedua (47,4%), dan dari keluarga dengan jumlah anggota lebih dari empat orang (60,5%) serta sosial ekonomi menengah. Lebih dari separuh anak memiliki paparan screen timeberlebih >1 jam per hari (52,6%). Temuan ini menunjukkan bahwa pada populasi RS Al-Islam Bandung, keterlambatan bicara cukup sering ditemukan bersamaan dengan paparan screen time yang tinggi, sehingga edukasi pembatasan durasi layar dan peningkatan stimulasi verbal keluarga tetap diperlukan.
Copyrights © 0000