Ayu Prasetia
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Gambaran Derajat Stres pada Mahasiswa Tingkat I Angkatan 2024 FK UNISBA Mayesa Khalilah Henry; Siti Annisa Devi Trusda; Ayu Prasetia
Bandung Conference Series: Medical Science 393-400
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22197

Abstract

Abstract. Stress is a common psychological problem among university students, with a high prevalence globally, in Asia, and in Indonesia. In Indonesia, the prevalence of stress among students ranges from 36.7% to 71.6%. This study aimed to describe the levels of stress among first-year students of the 2024 at the Faculty of Medicine, UNISBA, using an observational analytic design with a cross-sectional approach. A total of 73 respondents were selected using simple random sampling. Data were collected using the Perceived Stress Scale-10 to assess stress levels. The results showed that the majority of respondents experienced moderate stress levels (69.9%). ). The absence of a significant association may be explained by the fact that the respondents were first-year students who had adapted to the university environment and that data collection was conducted after the examination period, resulting in relatively moderate stress levels. Abstrak. Stres merupakan masalah psikologis yang umum dialami mahasiswa, dengan prevalensi yang tinggi secara global, di Asia, maupun di Indonesia. Di Indonesia, prevalensi stres pada mahasiswa berkisar antara 36,7% hingga 71,6%. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan derajat stres pada mahasiswa tingkat I angkatan 2024 Fakultas Kedokteran UNISBA menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 73 responden dipilih menggunakan metode simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale-10 untuk menilai derajat stres. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami derajat stres sedang (69,9%). Tidak adanya hubungan yang signifikan dapat dijelaskan oleh karakteristik responden yang merupakan mahasiswa tingkat I yang telah beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan serta waktu pengambilan data yang dilakukan setelah periode ujian, sehingga tingkat stres relatif sedang.
Hubungan Kontrol Diri dengan Kecanduan Media Sosial pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Asiyah Taqiyyah; Ratna Dewi Indi Astuti; Ayu Prasetia
Bandung Conference Series: Medical Science 401-410
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22202

Abstract

Abstract. Social media addiction is a behavioral addiction that may disrupt academic and psychosocial functioning, particularly among medical students with high academic demands. This study aimed to examine the relationship between self-control and social media addiction among medical students at the Faculty of Medicine, Universitas Islam Bandung. This cross-sectional study involved 290 students selected using proportionate stratified random sampling. Self-control was measured using the Brief Self-Control Scale (BSCS) consisting of 10 items and social media addiction using the Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS) consisting of 6 items. Categorical associations were analyzed using the chi-square test, and total score correlations were examined using Spearman’s correlation. The results showed that low self-control and low social media addiction were predominant (53.8% and 55.5%). The chi-square test indicated a significant association (p < 0.001; PR = 2.219), and Spearman’s correlation demonstrated a moderate negative correlation (ρ = −0.498; p < 0.001). In conclusion, higher self-control tends to be related to lower social media addiction and vice versa, as self-control supports impulse inhibition and goal-directed behavior, thereby reducing compulsive social media use. Keywords: Medical students, self-control, social media addiction. Abstrak. Kecanduan media sosial merupakan bentuk adiksi perilaku yang dapat mengganggu fungsi akademik dan psikososial, terutama pada mahasiswa kedokteran yang memiliki tuntutan belajar tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kontrol diri dengan kecanduan media sosial pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK UNISBA). Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional pada 290 mahasiswa yang dipilih menggunakan proportionate stratified random sampling. Kontrol diri diukur menggunakan Brief Self-Control Scale (BSCS) yang terdiri dari 10 item dan kecanduan media sosial diukur menggunakan Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS) yang terdiri dari 6 item. Analisis dilakukan menggunakan uji chi-square untuk variabel kategorik dan korelasi Spearman untuk skor total. Hasil menunjukkan kontrol diri dan kecanduan media sosial responden didominasi kategori rendah yaitu sebanyak 53.8% dan 55.5%. Uji chi-square menunjukkan hubungan signifikan antara kontrol diri dan kecanduan media sosial (p < 0,001; PR = 2,219). Korelasi Spearman menunjukkan hubungan negatif berkekuatan sedang (ρ = −0,498; p < 0,001). Simpulan penelitian ini adalah semakin tinggi kontrol diri maka kecanduan media sosial cenderung semakin rendah, dan sebaliknya, pada mahasiswa FK UNISBA, karena kontrol diri berperan dalam kemampuan mengendalikan impuls dan mengarahkan perilaku sesuai tujuan sehingga mengurangi kecenderungan penggunaan media sosial secara kompulsif. Kata kunci: Kecanduan media sosial, kontrol diri, mahasiswa kedokteran.
Gambaran Karakteristik Anak Usia 2-5 Tahun dengan Keterlambatan Bicara di Rumah Sakit Al-Islam Bandung Dinda Prameswari Gayatri; Cice Tresnasari; Ayu Prasetia
Bandung Conference Series: Medical Science 877-884
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22413

Abstract

Abstract. Speech delay in preschool-aged children is a common developmental problem that may affect both academic performance and social functioning. This study aims to describe the characteristics of children aged 2–5 years with speech delay and the duration of their screen time exposure at Al-Islam Hospital Bandung in 2025. This research employed a quantitative descriptive observational design. The sample consisted of 76 children aged 2–5 years who visited the Growth and Development Clinic and the Pediatric Clinic, comprising 38 children with speech delay and 38 children without speech delay, selected through consecutive sampling based on the study criteria. Data on child characteristics (sex, age, birth order, number of family members, and socioeconomic status) and screen time duration were collected through structured interviews with parents, while speech delay was diagnosed by a physician. The results showed that most respondents were male (65.8%), with the highest proportion of children with speech delay being second-born (47.4%), coming from families with more than four members (60.5%), and having middle socioeconomic status. More than half of the children had excessive screen time exposure, defined as >1 hour per day (52.6%). These findings indicate that in the Al-Islam Hospital Bandung population, speech delay is relatively common and frequently occurs alongside high screen time exposure, underscoring the need for parental education on limiting screen time duration and enhancing verbal stimulation at home. Abstrak. Keterlambatan bicara pada anak usia prasekolah merupakan masalah tumbuh kembang yang masih sering dijumpai dan dapat berdampak pada kemampuan akademik maupun sosial anak. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik anak usia 2–5 tahun dengan keterlambatan bicara dan durasi paparan screen time di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif kuantitatif. Sampel berjumlah 76 anak usia 2–5 tahun yang berkunjung ke Poli Tumbuh Kembang dan Poli Anak, terdiri atas 38 anak dengan keterlambatan bicara dan 38 anak tanpa keterlambatan bicara, dipilih dengan consecutive sampling sesuai kriteria penelitian. Data karakteristik anak (jenis kelamin, usia anak, urutan kelahiran, jumlah anggota keluarga, dan status sosial ekonomi) serta durasi paparan screen time dikumpulkan melalui wawancara terstruktur kepada orang tua, sedangkan keterlambatan bicara ditegakkan oleh dokter. Hasil menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (65,8%), kelompok keterlambatan bicara paling banyak berasal dari urutan kelahiran kedua (47,4%), dan dari keluarga dengan jumlah anggota lebih dari empat orang (60,5%) serta sosial ekonomi menengah. Lebih dari separuh anak memiliki paparan screen timeberlebih >1 jam per hari (52,6%). Temuan ini menunjukkan bahwa pada populasi RS Al-Islam Bandung, keterlambatan bicara cukup sering ditemukan bersamaan dengan paparan screen time yang tinggi, sehingga edukasi pembatasan durasi layar dan peningkatan stimulasi verbal keluarga tetap diperlukan.
Hubungan Antara Tingkat Kecemasan dengan Gejala GERD pada Mahasiswa FK Unisba Tsania Zahra Sal-Salbila; R. Anita indriyanti; Ayu Prasetia
Bandung Conference Series: Medical Science 1251-1258
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22539

Abstract

Abstract. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) is a common gastrointestinal disorder among young adults, including university students. Although psychological factors such as anxiety are believed to contribute to the onset and exacerbation of GERD symptoms,evidence regarding the association between anxiety levels and GERD symptoms among medical students in Indonesia, particularly at the Faculty of Medicine, Universitas Islam Bandung, remains limited. This study aimed to analyze the relationship between anxiety levels and GERD symptoms among medical students at Universitas Islam Bandung. This study employed an observational analytic design with a cross-sectional approach. The sampling technique used was non-probability sampling with a convenience sampling method. Anxiety levels were assessed using the Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7) questionnaire, while GERD symptoms were measured using the GERD Questionnaire (GERD-Q). Data were analyzed using thefisher exacttest with a significance level of p < 0.05. The results demonstrated a significant association between anxiety levels and GERD symptoms (p < 0.001).Higher levels of anxiety were associated with an increased risk of GERD symptoms. Abstrak.Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan gangguan saluran cerna yang sering ditemukan pada populasi dewasa muda, termasuk mahasiswa. Meskipun faktor psikologis seperti kecemasan diduga berperan dalam muncul dan memperberat gejala GERD,data mengenai hubungan tingkat kecemasan dengan gejala GERD pada mahasiswa kedokteran di Indonesia, khususnya di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat kecemasan dengan gejala GERD pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan metode cross-sectional. Teknik pemilihan sampel menggunakan non-probability sampling dengan metode convenience sampling. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7), sedangkan gejala GERD diukur menggunakan GERD Questionnaire (GERD-Q). Analisis data dilakukan menggunakan uji fisher exact dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dan gejala GERD (p < 0,001). Semakin tinggi tingkat kecemasan, semakin besar risiko munculnya gejala GERD.