Kabupaten Flores Timur merupakan salah satu sentra produksi ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Abon ikan cakalang diproduksi secara industri dan dipasarkan ke luar daerah, namun informasi mengenai mutu kimia dan mikrobiologi produk ini selama penyimpanan masih terbatas, sehingga berisiko menimbulkan penurunan mutu yang tidak terdeteksi dan ketidaksesuaian dengan SNI 7690.1:2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi mutu kimia (kadar air, protein, lemak, dan abu) serta mutu mikrobiologi (Angka Lempeng Total) abon ikan cakalang asal Flores Timur selama penyimpanan 91 hari pada suhu ruang, serta menilai kesesuaiannya dengan standar SNI yang berlaku. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Perikanan, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka. Bahan baku berupa ikan cakalang segar dari PPI Amagarapati, yang diolah menjadi abon dan dikemas menggunakan stand up pouch. Pengujian kadar air dan abu mengacu pada SNI 01-2891-1992, kadar lemak pada SNI 9331:2024, kadar protein pada SNI 01-2354.4:2006, dan ALT pada SNI 2332.3:2015. Hasil penelitian menunjukkan kadar protein meningkat dari 35,73% menjadi 37,87%, kadar lemak menurun dari 22,22% menjadi 21,10%, dan kadar abu meningkat dari 3,46% menjadi 3,59%; seluruh parameter ini memenuhi SNI 7690.1:2013. Namun, kadar air (8,32–8,37%) melebihi batas maksimum SNI (7%) sejak awal penyimpanan. Nilai ALT berkisar 2,0×10¹ hingga 2,5×10² koloni/g, masih jauh di bawah batas SNI (5×10⁴ koloni/g). Disimpulkan bahwa abon ikan cakalang memenuhi syarat mutu kimia dan mikrobiologi SNI kecuali parameter kadar air, sehingga perbaikan proses pengeringan atau pengepresan diperlukan.
Copyrights © 2026