Transformasi digital telah mengubah cara kerja sekaligus hubungan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Namun, bukti empiris mengenai pengaruh kerja digital terhadap work–life balance (WLB) masih menunjukkan hasil yang beragam. Penelitian ini bertujuan mensintesis hubungan kerja digital dan WLB, mengidentifikasi mekanisme yang mendasarinya, serta menelaah kondisi personal, organisasional, dan kontekstual yang memengaruhi hubungan tersebut. Systematic literature review dilakukan terhadap literatur Scopus yang dicari pada 20 Agustus 2026 dengan mengikuti prinsip PRISMA 2020. Dari 88 rekaman awal, 13 studi memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis menggunakan integrative narrative synthesis, dengan kualitas metodologis dievaluasi menggunakan instrumen JBI sesuai desain studi. Hasil menunjukkan bahwa kerja digital menghasilkan dua jalur yang dapat berlangsung secara simultan. Jalur sumber daya mendukung WLB melalui fleksibilitas, otonomi, efisiensi, dan kontrol, sedangkan jalur tuntutan menurunkan WLB melalui techno-overload, techno-invasion, permeabilitas batas, ketersediaan terus-menerus, dan tekanan psikologis. Efek tersebut dipengaruhi oleh boundary control, self-efficacy, resiliensi, dukungan organisasi, pengalaman kerja jarak jauh, dan tuntutan pekerjaan tambahan. Sintesis ini mengembangkan konsep digital flexibility–hyperconnectivity paradox untuk menjelaskan variasi konsekuensi kerja digital terhadap WLB.
Copyrights © 2026