Rural communities frequently encounter structural challenges in bridging traditional religious educational centers with contemporary youth engagement, leading to fragmented character formation and underutilised community assets. Objective: This study evaluates an Asset-Based Community Development (ABCD) initiative focused on social and religious empowerment to enhance religious literacy, foster youth character development, and build long-term social cohesion in rural settings. Methods: Utilising a five-stage ABCD methodology comprising Discovery, Dream, Design, Destiny, and Sustainability phases, the six-week participatory engagement mobilised five categories of local assets across traditional Islamic educational institutions (Taman Pendidikan Al-Qur'an and Madrasah Diniyah), youth associations, and community mosques. Data collection involved appreciative inquiry, focus group discussions, participatory observations, and structured pre- and post-intervention evaluation metrics. Results: The engagement yielded substantial quantitative and qualitative transformations. Quranic recitation accuracy among young learners increased from 42% to 88%, while public speaking confidence during Islamic creative competitions rose from 38% to 82%. Active youth participation in mosque-centered activities expanded from 28% to 85%, alongside a 91% post-activity awareness index regarding ethical character conduct and mutual respect. Crucially, the initiative established sustainable multi-stakeholder partnerships connecting religious educators, youth networks (Remaja Masjid and Karang Taruna), and corporate-civic philanthropic entities. Conclusion and Implications: Mobilising internal faith-based and social assets provides a highly effective, self-sustaining framework for community empowerment without relying heavily on external financial inputs. The findings present a scalable blueprint for integrating traditional religious values with modern civic empowerment strategies across rural developing regions. Masyarakat perdesaan sering menghadapi tantangan struktural dalam menjembatani pusat pendidikan keagamaan tradisional dengan keterlibatan generasi muda di era kontemporer, yang berakibat pada pembentukan karakter yang tidak utuh serta kurang optimalnya pemanfaatan aset komunitas. Tujuan: Studi ini mengevaluasi inisiatif Asset-Based Community Development (ABCD) pengembangan komunitas berbasis aset yang berfokus pada pemberdayaan sosial dan keagamaan untuk meningkatkan literasi agama, mendukung pengembangan karakter generasi muda, dan membangun kohesi sosial jangka panjang di lingkungan perdesaan. Metode: Dengan menggunakan metodologi ABCD lima tahap Penemuan, Impian, Perancangan, Tujuan/Realisasi, dan Keberlanjutan kegiatan partisipatif selama enam minggu ini memobilisasi lima kategori aset lokal yang mencakup lembaga pendidikan Islam tradisional (Taman Pendidikan Al-Qur'an dan Madrasah Diniyah), organisasi kepemudaan, serta masjid komunitas. Pengumpulan data dilakukan melalui inkuiri apresiatif, diskusi kelompok terarah, observasi partisipatif, serta metrik evaluasi terstruktur sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Inisiatif ini menghasilkan transformasi kuantitatif maupun kualitatif yang signifikan. Akurasi pembacaan Al-Qur'an di kalangan peserta didik muda meningkat dari 42% menjadi 88%, sementara kepercayaan diri dalam berbicara di depan umum saat kompetisi kreatif Islami naik dari 38% menjadi 82%. Partisipasi aktif generasi muda dalam kegiatan berbasis masjid meningkat dari 28% menjadi 85%, disertai dengan indeks kesadaran sebesar 91% mengenai perilaku berkarakter etis dan sikap saling menghormati setelah kegiatan berlangsung. Yang terpenting, inisiatif ini membangun kemitraan multipihak yang berkelanjutan, yang menghubungkan para pendidik agama, jejaring pemuda (Remaja Masjid dan Karang Taruna), serta entitas filantropi dari sektor korporat maupun masyarakat sipil. Kesimpulan dan Implikasi: Mobilisasi aset internal berbasis keagamaan dan sosial menyediakan kerangka kerja yang sangat efektif dan mandiri untuk pemberdayaan komunitas, tanpa harus bergantung secara berlebihan pada dukungan finansial eksternal. Temuan ini menyajikan cetak biru yang dapat direplikasi untuk mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan tradisional dengan strategi pemberdayaan masyarakat modern di berbagai wilayah perdesaan yang sedang berkembang.
Copyrights © 2025