Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan alasan bertahannya teknik ngiris dan ngelebengang dalam pengolahan gula aren tradisional di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, serta mengidentifikasi peran aktif perajin dalam mempertahankan teknik tersebut di tengah perubahan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis etnosains. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam terhadap enam informan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dan studi dokumen. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik, sedangkan analisis data menggunakan model etnografi Spradley yang meliputi analisis domain, taksonomi, komponensial, dan tema budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik ngiris dan ngelebengang tetap bertahan karena empat faktor utama, yaitu pertimbangan kualitas dan cita rasa gula, fungsi religius dan adat, pewarisan pengetahuan melalui pengalaman dan kebiasaan, serta nilai ekonomi produk. Dalam perspektif teori praktik sosial Pierre Bourdieu, keberlangsungan teknik tersebut berkaitan dengan habitus perajin serta pemanfaatan modal budaya, simbolik, dan ekonomi dalam menghadapi tekanan modernisasi. Peran aktif perajin diwujudkan melalui pelestarian teknik pengolahan gula aren, penguatan ekonomi desa melalui Kelompok Getah Uyung, diversifikasi produk dan pemasaran, pelestarian lingkungan melalui pembibitan dan penanaman kembali pohon aren, serta pengembangan pariwisata desa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberlangsungan tradisi tersebut bukan sekadar hasil pewarisan kebiasaan, melainkan bentuk negosiasi antara nilai budaya, religius, dan ekonomi. Oleh karena itu, sinergi antara perajin, kelompok tani, perguruan tinggi, dan pemerintah desa diperlukan untuk menjaga kelestarian tradisi sekaligus meningkatkan keberlanjutannya di tengah perubahan sosial.
Copyrights © 2026