Dialog tentang perbedaan praktik doa di kelas PAI sering diasumsikan aman selama guru bersikap netral dan topiknya dibingkai sebagai khilafiyah. Artikel ini berargumen bahwa rasa aman dalam dialog semacam itu bukanlah kondisi yang sudah ada sebelumnya, melainkan hasil kerja interaksional yang terus-menerus diuji, dinegosiasikan, dan kadang gagal dipertahankan. Dengan memusatkan perhatian pada tata percakapan, aturan bicara, respons terhadap pernyataan perbedaan, dan isyarat nonverbal yang menandai rasa aman, studi kualitatif ini menganalisis bagaimana “ruang aman” diproduksi atau dilemahkan dalam dialog tentang perbedaan praktik doa di sebuah MIS Muhammadiyah Sidabowa. Menggunakan sosiologi percakapan, konsep safe space yang dipahami secara kritis, dan teori pengakuan, artikel ini menunjukkan bahwa rasa aman tidak merata: siswa yang perbedaan praktik doanya sejalan dengan mayoritas kelas atau dengan penekanan guru lebih mudah merasa aman, sementara siswa yang perbedaannya menyentuh wilayah yang dianggap sensitif cenderung belajar untuk membatasi diri. Artikel ini berkontribusi pada sosiologi pendidikan Islam dengan menjelaskan bahwa tata percakapan aman menuntut perhatian pada distribusi rasa aman, bukan hanya pada ada atau tidaknya forum dialog.
Copyrights © 2026