Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana akses dan pembatasan pengetahuan ritual membentuk pemosisian Wulan dalam Inang (2022) dan Hwa-rim dalam Exhuma (2024), serta bagaimana keduanya mengartikulasikan agensi dalam kondisi pengetahuan yang berbeda. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan analisis tekstual film secara komparatif terhadap dua film dan delapan rangkaian adegan terpilih dari 29 rangkaian adegan kandidat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan pengetahuan tidak selalu menghasilkan posisi subordinat yang kaku. Dalam Inang, pembatasan informasi dan keterlambatan akses berkaitan dengan pemosisian Wulan sebagai objek ritual serta mempersempit kemungkinan tindakannya sebelum tujuan ritual diketahui. Sebaliknya, dalam Exhuma, batas pengetahuan Hwa-rim terutama berupa batas keahlian dalam pembagian praktik ritual dan tetap memungkinkan dirinya menafsirkan gangguan, menentukan strategi, serta mengorganisasi keterlibatan pihak lain. Perbandingan ini menunjukkan bahwa pemosisian dan agensi tidak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya pengetahuan, melainkan oleh cara pengetahuan diperoleh, waktu akses, fungsi pengetahuan, dan kewenangan untuk menggunakannya dalam relasi kuasa tertentu.
Copyrights © 2026