Industri minuman siap saji berbasis kopi di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat yang menuntut konsistensi kualitas produk. UMKM Kopi Jago menghadapi permasalahan serius berupa tingginya tingkat kecacatan produk pada periode Juli 2024–Juni 2025 dengan rata-rata 7,15% per bulan, jauh melampaui batas toleransi maksimal perusahaan sebesar 5%. Permasalahan ini tidak hanya bersumber dari proses internal, tetapi juga dipicu oleh kelemahan manajemen rantai pasok bahan baku hulu, khususnya kondisi penyimpanan biji kopi yang kurang optimal di gudang sehingga memicu oksidasi. Kondisi ini berdampak pada kerugian finansial rata-rata Rp6.520.000 per bulan serta meningkatnya keluhan pelanggan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis dan faktor penyebab cacat produk serta merumuskan dan mengevaluasi rekomendasi perbaikan kualitas terintegrasi di UMKM Kopi Jago. Penelitian kuantitatif deskriptif ini menerapkan pendekatan Plan-Do-Check-Action (PDCA) yang dikombinasikan dengan P-chart, Diagram Pareto, Diagram Fishbone, dan analisis 5W+1H. Lima jenis cacat dominan teridentifikasi: rasa tidak sesuai (23,8%), isi kurang/lebih (19,8%), cup/tutup bocor (16,5%), label rusak (12,5%), dan endapan berlebih (10,7%), dengan total kontribusi 83,4%. Langkah perbaikan mencakup perbaikan manajemen logistik gudang bahan baku, preventive maintenance, penyusunan SOP/IK, dan pelatihan operator. Hasil evaluasi pasca-perbaikan menunjukkan penurunan tingkat kecacatan dari 7,15% menjadi 4,83%, peningkatan nilai kapabilitas proses (Cpu) dari -2,82 menjadi 0,26, serta efisiensi kerugian biaya menjadi Rp4.530.000 per bulan. Integrasi siklus PDCA dan manajemen rantai pasok bahan baku terbukti efektif meningkatkan konsistensi mutu serta efisiensi operasional UMKM coffee-to-go. Penelitian ini memberikan kontribusi komprehensif pada kajian manajemen kualitas berbasis rantai pasok dari hulu ke hilir).
Copyrights © 2026