Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan metode kontrasepsi jangka panjang yang memiliki efektivitas tinggi hingga 99,4%, namun cakupan penggunaannya di wilayah Tayu Kabupaten Pati masih tergolong rendah, yaitu hanya 4% dari total peserta KB aktif. Rendahnya cakupan ini diduga dipengaruhi oleh faktor determinan perilaku Pasangan Usia Subur (PUS) seperti pengetahuan, sikap, dan dukungan keluarga, serta peran tenaga kesehatan dalam pemberian konseling dan pelayanan KB. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan perilaku Pasangan Usia Subur (PUS) dan peran tenaga kesehatan terhadap cakupan penggunaan kontrasepsi AKDR di Puskesmas wilayah Tayu Kabupaten Pati Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan metode mixed methods dengan desain Sequential Explanatory, yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Fase kuantitatif dilakukan kepada 110 responden PUS menggunakan kuesioner, dianalisis dengan uji Chi-Square, Mann-Whitney, Kruskal-Wallis, korelasi Eta, dan Regresi Logistik Biner. Fase kualitatif dilakukan pada 10 informan (5 tenaga kesehatan dan 5 PUS) yang dipilih secara purposive melalui wawancara mendalam (in-depth interview). Temuan kualitatif mengungkap hambatan psikoseksual (rasa malu saat pemeriksaan ginekologi dan ketakutan nyeri), mitos AKDR yang diperkuat oleh mertua dan lingkungan sosial, serta dominasi suami dalam pengambilan keputusan reproduksi sebagai penghambat utama. Simpulan: Dukungan suami merupakan faktor paling dominan yang mempengaruhi penggunaan AKDR (OR=11,3). Terdapat fenomena disonansi kognitif-afektif bahwa pengetahuan yang baik tidak otomatis menghasilkan sikap dan tindakan positif terhadap AKDR.
Copyrights © 2026