Keamanan pangan merupakan aspek penting dalam kesehatan masyarakat, tetapi penyalahgunaan formalin sebagai bahan pengawet makanan ilegal masih ditemukan. Paparan formalin dapat menyebabkan kerusakan hati melalui peningkatan radikal bebas dan stres oksidatif. Astaxanthin memiliki aktivitas antioksidan, sedangkan nano-kitosan berpotensi meningkatkan efektivitas penghantaran astaxanthin. Penelitian ini bertujuan menganalisis efek sinergitas nano-kitosan dan astaxanthin terhadap kadar SGPT dan SGOT tikus yang dipapar formalin. Penelitian eksperimental ini menggunakan 24 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi enam kelompok, yaitu K− (kontrol normal), K+ (formalin 100 mg/kg BB), P1 (nano-kitosan 64 mg/kg BB), P2 (astaxanthin 75 mg/kg BB), P3 (kombinasi nano-kitosan dan astaxanthin masing-masing 50 mg/kg BB), serta P4 (kombinasi nano-kitosan 50 mg/kg BB dan astaxanthin 75 mg/kg BB). Formalin diberikan secara oral, sedangkan perlakuan diberikan empat jam setelah induksi selama 21 hari. Kadar SGPT dan SGOT dianalisis menggunakan One way ANOVA dengan uji Duncan. Hasil menunjukkan bahwa nano-kitosan cenderung menurunkan kadar SGPT dan SGOT, tetapi penurunannya tidak signifikan secara statistik. Astaxanthin tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap SGOT dan SGPT. Kombinasi kedua bahan juga tidak menurunkan kadar SGPT dan SGOT secara signifikan. Dengan demikian, kombinasi nano-kitosan dan astaxanthin belum menunjukkan efek sinergis. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar bagi penelitian lanjutan mengenai potensi kombinasi kedua bahan dalam mendukung pemulihan fungsi hati akibat paparan formalin.
Copyrights © 2026