Backgroud: Tariffs for radiodiagnostic examination in radiology installation Linggajati Public Hospital Kuningan based on PERDA number 9 of 2012 on Health Care Levy who still use traditional accounting system, so the calculation is still less likely giving an exact cost in setting the charges. Costing is sometimes pose a problem. It is necessary to do cost analysis for radiognostic. The problem is to determine what is the unit cost and other considerations that applied in determining tariff for radiognostic services at Linggajati Public Hospital Kuningan. The aim of this research is to find out the cost unit and determine radiognostik service cost at Linggajati Public Hospital Kuningan. Methods: This was observational research using descriptive method through performing case study at Linggajati Public Hospital Kuningan. A calculation of cost unit was carried out by using the method Activity Based Costing (ABC), and analysis was done using content analysis after performing Focus Group Discussion (FGD). Results: Result of calculation using ABC method shows that cost unit of radiognostic service per unit for activities of administrative services registration is Rp 11,478,545,-. Cost unit for Activity radiodiagnostic examination Rp. 29.999.900,-. film processing activity. 24.677.100,- Activity for reading results is Rp. 2,400,000, Radiology Equipment Maintenance is Rp. 3,500,000. The total cost of the activity charged in radiology installation 72,055,545 divided by the number of days 365 days, so the charges rate is Rp. 197 412. Conclusion: The use of activity based costing as compared with the existing radiodiagnostic examination rate used by the hospitals shows the difference of Rp. 150 412. We suggest that hospitals should know and understand the activity based costing method to be able to make an accurate calculation of rates. Latar Belakang: Pemberlakuan tarif pelayanan pemeriksaan radiodiagnostik di instalasi radiologi RSUD Linggajati Kuningan berdasarkan PERDA Kabupaten Kuningan nomor 9 tahun 2012 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan yang masih mengguna- kan sistem akuntansi tradisional, sehingga hasil perhitungannya masih kurang memberikan gambaran yang tepat dalam pembe- banan tarifnya. Penetapan biaya ini kadang kala menimbulkan masalah. Untuk itu perlu dilakukan analisis biaya pelayanan pemeriksaan radiognostik. Permasalahan yang ada adalah berapa unit cost dan berapa biaya yang tepat berdasarkan unit cost serta pertimbangan- pertimbangan lain yang diberlakukan dalam penetapan tariff pelayanan pemeriksaan radiognostik di RS Linggajati. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui besarnya biaya satuan (unit cost) dan menetapkan besarnya biaya pelayanan instalasi radiognostik di RSUD Linggajati Kuningan. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional diskriptif dengan melakukan studi kasus di RSUD Linggajati. Perhitungan unit cost dilakukan dengan metode Activity Based Costing (ABC), penetapan biaya lebih lanjut dilakukan content analysis setelah dilakukan Focus Group Discussion, serta pertimbangan-pertimbangan lainnya. Hasil: Aktivitas pelayanan administrasi pendaftaran Rp. 11.478.545, Aktivitas pemeriksaan radiodiagnostik Rp. 29.999.900, Aktivitas pengolahan film Rp. 24.677.100, Aktivitas pembacaan hasil Rp. 2.400.000, Pemeliharaan Alat Radiologi Rp. 3.500.000, Total biaya aktivitas dibebankan di instalasi radiologi 72.055.545 dibagi jumlah hari 365 hari maka tarif pemeriksaan Rp. 197.412. Kesimpulan: Perhitungan tarif pemeriksaan radiodiagnostik dengan menggunakan activity based costing, dilakukan melalui dua tahap. Dari perhitungan tarif pemeriksaan radiodiagnostik dengan menggunakan metode activity based costing. Penggunaan activity based costing apabila dibandingkan dengan tarif pemeriksaan radiodiagnostik yang digunakan oleh rumah sakit saat ini memberikan hasil yang lebih besar dengan selisih Rp. 150.412. Saran agar RSUD Linggajati Kuningan sebaiknya mengetahui dan memahami metode activity based costing ini agar bisa membuat perhitungan tarif yang akurat.
Copyrights © 2015