The fish auction mechanism (ba'i al-muzayadah) at the TPI in Muara Gading Mas Village is ideally fair and transparent, yet the pre-production capital debt relationship between fishers and collectors (bakul) is alleged to drive one-sided pricing that undermines mutual consent (an-taradin) and indicates Riba Qardh, alongside issues of retribution transparency, najasy, and gharar. This study aims to examine the practice against Sharia Economic Law criteria by comparing data from four key actors. The study uses a descriptive-analytical qualitative method, with in-depth interviews and participatory observation, analyzed through data reduction, synchronization, and Fiqh Muamalah principles. Results show the price adjustment arising from capital ties carries potential Riba Qardh yet still satisfies mutual consent, as fishers regard it as a voluntary partnership (ta'awun); the auction mechanism proved open, competitive, and free of najasy and gharar; while the retribution levy is legally valid but not transparent to fishers, being delegated to collectors (wakalah). It is concluded that the auction practice fulfills the validity of the sharia contract, though separating the capital contract from the sale contract (infishal al-'uqud) and greater retribution transparency are needed. ABSTRAKMekanisme lelang ikan (ba'i al-muzayadah) di TPI Desa Muara Gading Mas idealnya adil dan transparan, namun relasi utang permodalan antara nelayan dan pengepul (bakul) diduga memicu harga sepihak yang mencederai keridaan (an-taradin) dan indikasi Riba Qardh, selain isu retribusi, najasy, dan gharar. Penelitian ini bertujuan menguji praktik tersebut berdasarkan kriteria Hukum Ekonomi Syariah melalui pembandingan data empat aktor utama. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis, dengan wawancara mendalam dan observasi partisipatif, dianalisis melalui reduksi data, sinkronisasi, dan kaidah Fikih Muamalah. Hasil menunjukkan penyesuaian harga akibat ikatan modal berpotensi Riba Qardh namun tetap memenuhi keridaan karena dipahami nelayan sebagai kemitraan sukarela (ta'awun); mekanisme lelang terbukti terbuka, kompetitif, dan bebas najasy maupun gharar; sementara retribusi sah hukum namun belum transparan akibat diwakilkan kepada pengepul (wakalah). Disimpulkan praktik lelang telah memenuhi keabsahan akad syariah, namun perlu pemisahan akad (infishal al-'uqud) permodalan dari jual beli serta transparansi retribusi.
Copyrights © 2026