Kawasan Gunung Sewu tidak diragukan lagi menyimpan tinggalan budaya yang berkesinambungan utamanya masa prasejarah. Beberapa arkeolog menyebut kawasan Gunung Sewu sebagai metropolitan prasejarah. Hal tersebut didasarkan tinggalan budaya sejak paleolitik sampai dengan neolitik megalitik tersebar luas tanpa putus di kawasan ini. Gunungkidul sebagai salah satu kabupaten yang termasuk dalam kawasan Gunung Sewu juga menunjukkan potensi arkeologis yang tinggi dan berkesinambungan. Hal yang menjadi permasalahan adalah bagaimana seting okupasi yang berlangsung di Gunungkidul? Tulisan ini mencoba menjabarkan potensi arkeologis secara ruang dan waktu dalam sistem seting yang berlangsung khususnya kala Pleistosen ke Holosen. Daerah-daerah mana dimanfaatkan sebagai pusat aktivitas, dan daerah mana sebagai sumber bahan baku. Selanjutnya apakah terjadi pergeseran ruang dalam kurun waktu berikutnya? Faktor-faktor apakah yang menyebabkan seting okupasi tersebut terjadi. Diharapkan tulisan ini akan memberikan kontribusi dalam pelestarian seting okupasi budaya kala Pleistosen Holosen kawasan Gunungkidul berlangsung. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitik, sehingga akan terjabarkan seting okupasi secara ruang dan waktu.Hasil penelusuran Sungai Oyo dan gua hunian di Gunungkidul memberikan informasi terjadi perkembangan budaya dari aspek ruang dan waktu.
Copyrights © 2017