Abstrak:Berbagai macam pertikaian dan konflik agama atau atas nama agama telahmembuat nilai-nilai universal kemanusiaan menjadi terciderai. Konflikberdarah yang mewarnai sejarah kemanusiaan disebabkan oleh otoritas tekssuci agama yang diinterpretasi secara sempit dan eksklusif yang berujungpada truth claim. Masing-masing agama memiliki otoritas klaim kebenarantersendiri yang agaknya semakin melegalkan konflik atas nama agama.Dalam kondisi demikian, pluralitas menjadi hal yang niscaya. Kemajuanilmu pengetahuan dan teknologi telah mempersempit ruang dan waktu bagiberbagai macam manusia di muka bumi sehingga tercipta sesuatu yangdisebut global village (perkampungan global/dunia). Bumi yang sama yagdipijak manusia juga mengharuskan sebuah tanggung jawab bersama untukmenjaga dan menjamin kedamaian dan harmonisasi di dalamnya.Karenaitulah, pluralitas mensyaratkan adanya dialog keterbukaan. Dalam dialogantaragama, semua peserta dialog duduk bersama-sama bukanmembicarakan perbedaan-perbedaan, akan tetapi persamaan-persamaanyang menuntun pada pola interaksi yang positif dan aktif. Pendeknya,dialog mengharuskan para peserta dialog untuk memandang bahwa semuamemiliki derajat, kedudukan, dan kepentingan serta cita-cita bersamauntukmewujudkan kehidupan yang humanis, damai, dan penuh cinta kasih.Kata Kunci: Eksklusif, Inklusif, Pluralitas, Dialog, Konflik Agama
Copyrights © 2013