Abstrak Stunting memiliki frekuensi kejadian sakit infeksi sperti diare, panas, batuk dan pilek lebih sering dibandingkan dengan balita normal karena intake protein dan vitamin A yang kurang maksimal sehingga mempengaruhi daya tahan tubuh anak balita dimana kebutuhan akan zat gizi pada usia balita sangtlah karena digunakan untuk proses pertumbuhan.Secara epidemologi yang berperan sebagai adalah intake zat gizi mikro (vitamin dan mikronutrien) dan kondisi infeksi berperan sebagai agent, sedangkan enviroment disini memiliki peran yang sangat besar dalam terjadinya stunting. Yang termasuk ke dalam kelompok enviroment adalah pemberian ASI ekslusif, BBLR, pendidikan orang tua, lingkungan, dan pendapatan keluarga.Penyelesaian stanting dapat dilakukan dalam bidan kesehantan maupun diluar, penyelsaian stunting dengan melibatkan sektor lain itu sangat dibutuhkan. Aksi di tingkat nasional diperlukan untuk memperkuat keranngka kebijakan dan legislative, mekanisme kelembagaan dan pengembangan sumber daya manusia.Dari telaah pustaka ini dapat disimpulkan bahwa; Intake mikronutrien yang rendah khusunya vitamin A, zat besi dan Seng; Kejadian infeksi yang menyebabkan penurunan nafsu makan, penurunan absorbsi,yang akhirnya berakibat penurunan mikronutrien yang ada dalam tubuh; Penelitian tentang stunting perlu di tindaklanjuti karena stunting berpengaruh pada penentuan generasi berikutnya; Dibutuhkan penanganan stunting dengan pendekatan multisektor. Kata Kunci: Stunting, multisektor, mikronutrient
Copyrights © 2017