EDU-KATA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Vol 1 No 2 (2014): Agustus 2014

ANALISIS KESANTUNAN BERBAHASA DI LINGKUNGAN TERMINAL SEKITAR WILAYAH BOJONEGORO DENGAN PRINSIP KESANTUNAN LEECH

Rodhiati Rahmawati (MTsN Bojonegoro)



Article Info

Publish Date
30 Aug 2014

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk (a) mendeskripsikan kesantunan berbahasa para calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur di lingkungan terminal Bojonegoro dengan prinsip kesantunan Leech; (b) mengetahui wujud ragam bahasa yang tidak santun yang diucapkan oleh para calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur di lingkungan terminal Bojonegoro; dan (c) mengetahui persepsi penyimak bahasa di luar lingkungan terminal terhadap kesantunan berbahasa para calo, pedangang asongan, supir, dan kondektur di lingkungan terminal Bojonegoro. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi kualitatif. Teknik pengumpulkan data dalam penelitian ini menggunakan teknik rekam dan teknik catat. Tenik analisis data dalam penelitian ini menggunakan kartu data. Sumber data penelitian iniadalah para calo, pedangang asongan, supir, dan kondektur yang terdapat di lingkungan terminal sekitar wilayah Bojonegoro. Data dalam penelitian ini adalah tuturan para calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur yang mengandung kata-kata kasar dan pelanggaran prinsip kesantunan Leech. Hasil penelitiankesantunan berbahasa di lingkungan terminal Bojonegoro menunjukkan bahwa tuturan yang ada di lingkungan terminal khususnya di terminal sekitar wilayah Bojonegoro yang dituturkan oleh para calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur terdapat pelanggaran enam maksim prinsip kesantunan Leech. Enam maksim tersebut yaitu pelanggaran maksim kebijaksanaan, maksim penerimaan, pelanggaran maksim kemurahan, pelanggaran maksim kerendahan hati, pelanggaran maksim kecocokan, dan pelanggaran maksim simpati. Wujud ragam bahasa yang tidak santun juga diucapkan oleh para calo, pedagang asongan, supir dan kondektur seperti kata-kata menyakitkan hati, olok-olok atau sindiran pedas, dan celaan getir. Persepsi penutur bahasa di luar lingkungan terminal seperti guru, mahasiswa, karyawan swasta, dan ustadz beranggapan bahwa tuturan yang ada di lingkungan terminal sebagian besar adalah tuturan kasar. Menurut mereka yang menjadi latar belakang penutur mengucapkan tuturan kasar adalah latar pendidikan yang rendah, lingkungan yang memungkinkan mereka untuk bertutur kasar dan pondasi iman yang kurang kuat.

Copyrights © 2014






Journal Info

Abbrev

kata

Publisher

Subject

Education Languange, Linguistic, Communication & Media

Description

The journal is published by the Master Program of Indonesian Language and Literature Education, Postgraduate Program, Islamic University Darul Ulum Lamongan as a medium of information, teaching facilities, and dissemination of research results, theoretical developments, and scientific writings on ...