Sebuah karya sastra tertulis ternyata memiliki bentuk tradisi lisan. Konsep dasar dari teori formula pada tradisi lisan yaitu repetisi yang dilakukan terus menerus. Repetisi adalah suatu bentuk pengulangan yang ada pada tradisi lisan guna mengembangkan gagasan penceritaan dalam upaya memikat audiens. Novel Gadis Tangsi karya Suparto Brata memiliki gaya penuturan yang masih menggunakan tradisi lisan, yaitu terdapat bentuk pengulangan atau repetisi yang selalu muncul dalam bagian-bagian penceritaannya. Novel ini dapat dikaji lebih lanjut dengan menunjukkan unsur-unsur kelisanan dalam novel ini. Bentuk tradisi lisan tetap ada pada sastra tertulis karena budaya dalam masyarakat tertentu telah melekat pada pribadi penulis. Keinginan khalayak agar karya sastra memiliki muatan pendidikan telah ditampilkan penulis dalam novel Gadis Tangsi ini. Muatan pendidikan dalam novel tersebut lebih mengutamakan proses meningkatkan perasaan daripada proses mengasah pola pikir. Perasaan pada akhirnya perlu diungkapkan secara lisan.Abstract: A written literary work has its oral tradition form. The basic concept from formula at oral tradition is repetition that has continually been done. Repetition is a kind of repeating in oral tradition in order to develop idea of story to attract audience. Suparto Brata’s novel of Gadis Tangsi has a style that uses oral tradition form with repetition in each part text the story. This novel can be investigated by showing the oral elements in the novel. The oral tradition form always exists in written literature as culture in certain community has been in the author’s person- ality.. Expectation of audience that literature must have education content has been performed in Gadis Tangsi novel. Education content in this novel gives more concernd on the proses of increas- ing a sense of human being than a critical thinking. Finally, sense of human being has to be expressed orally.
Copyrights © 2013