Abstract. Menjadi seorang exile dan kerinduan akan tanah air adalah tema yang di-ekspose oleh dua penulis yaitu, Agam Wispi dan Leila S. Chudori. Karena alas an politik Agam Wispi harus meninggalkan negara asalnya yaitu Indonesia dan hidup sebagai seorang eksil. Kerinduan akan tanah airnya diungkapkan dalam puisinya yang berjudul Pulang. Novel Leila S. Chudori yang berjudul Pulang, juga bercerita tentangkehidupan seorang eksil yang bernama Dimas Suryo. Latar belakang Pulang dimulai pada tahun 1965 dan berakhir pada tahun 1998. Dimas Suryo, dan rekan-rekannya yang menghadiri konferensi wartawan di Santiago, Chili, pada saat terjadiperistiwa G 30 S tidak bias pulang karena paspor mereka dicabut dan mereka tidak bisa kembali ke Indonesia. Pindah dari Cile ke Kuba kemudian ke China, akhirnya berakhir menetap di Paris di mana mereka membuka restoran. Meskipun dipisahkan oleh jarak yang jauh dari tanah air mereka, kerinduan mereka untuk berhubungan dengan Indonesia adalah kunci dari novel tersebut.Tulisan ini mengeksplorasi hubungan intertekstual antara Pulang karya Agam Wispi dan Pulang karya Leila S.Chudori. Dengan menggunakan teoriinterteks yang diekspose oleh Roland Barthes dan Rifatterre, makalah ini berupaya untuk melihat bagaimana Pulang karyaAgam Wispi, seorang penulis eksil Indonesia, memiliki persamaan dan perbedaan dengan Pulang karya Leila S. Chudori, seorang penulis wanita Indonesia yang terkenal pada saat ini.Keywords: intertextuality, exiles
Copyrights © 2016