Salah satu faktor yang dapat digunakan untuk memperkirakan bahaya gempa bumi terhadap suatu bangunan adalah mengetahui nilai resonansi bangunan. Nilai resonansi bangunan dapat ditentukan dengan cara melakukan pengukuran mikrotremor untuk mendapatkan nilai frekuensi natural bangunan dan tanah di bawahnya yang kemudian dapat dihitung nilai resonansinya. Pengukuran mikrotremor telah dilakukan pada 4 bangunan di Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG). Bangunan yang diteliti memiliki ketinggian yang bervariasi antara 2 hingga 3 lantai, yang terdiri dari bangunan B1, B2, B3, dan B4. Pengukuran dilakukan pada bagian struktur bangunan yang berbeda (struktur pojok dan tengah). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik resonansi antara bangunan dengan tanah di bawahnya. Peralatan yang digunakan adalah seperangkat seismometer Lennartz Mark 3D dengan durasi rekaman selama 1 jam. Metode HVSR (Horizontal to Vertical Spectral Ratio) digunakan untuk mengolah dan menganalisis data mikrotremor pada tanah dan selanjutnya dilakukan analisis spektrum untuk mendapatkan karakteristik nilai frekuensi natural tiap komponen pada masing-masing bangunan. Secara umum, nilai resonansi paling tinggi diperoleh pada bangunan B2. Resonansi rendah hingga sedang terdapat pada bangunan B1. Sedangkan bangunan B3 dan B4 memiliki karakteristik yang hampir sama dengan nilai resonansi rendah dan tinggi.
Copyrights © 2017