Tujuan: Untuk mengevaluasi hasil luaran dari prosedur operasi
mikro rekanalisasi anastomosis tuba fallopii dengan laparoskopi.
Tempat: Klinik Raden Saleh, Divisi Kesehatan Reproduksi, Departemen
Obstetri dan Ginekologi, FKUI/RSUPNCM.
Bahan dan cara kerja: Dilaporkan 3 kasus. Kasus pertama: Ny. A,
38 tahun, P3A0 (anak terkecil 3 tahun), sterilisasi 3 tahun, menikah 1 x,
usia suami 41 tahun, ingin punya anak lagi karena sosial ekonomi membaik.
Kasus kedua: Ny. I, 44 tahun, P3A0 (anak hidup 1), riwayat bekas
seksio 1 x, nikah 1 x, usia suami 48 tahun, ingin punya anak lagi karena
dua anak terakhir meninggal. Kasus ketiga: Ny. S, 40 tahun, P3A0 (anak
terkecil 8 tahun), sterilisasi 8 tahun lalu, cerai dengan suami pertama 5
tahun lalu, menikah lagi 2 tahun lalu, ingin punya anak lagi karena desakan
suami kedua, telah gagal menjalani IVF satu tahun yang lalu.
Hasil: Rekanalisasi tuba dengan laparoskopi telah dilakukan pada
ketiga pasien. Pada pasien pertama dan kedua dilakukan rekanalisasi
pada kedua tuba dengan hasil pascaoperasi kedua tuba paten. Pada
pasien ketiga tuba kanan oklusi diproksimal, sehingga hanya pada tuba
kiri yang dilakukan rekanalisasi dengan hasil tuba kiri paten.
Kesimpulan: Pada ketiga kasus rekanalisasi tuba dilakukan karena
keinginan kuat dari masing-masing pasangan suami istri dengan alasan
yang berbeda. Pada kasus-kasus yang diseleksi laparoskopi dengan
teknik khusus memakai instrumen mikro KOH (dengan diameter alat
masing-masing 2,5 mm) dapat ditawarkan untuk rekanalisasi tuba. Seleksi
pasien dan teknik operasi yang baik adalah faktor kunci untuk
mencapai angka kehamilan yang memuaskan. Hasil luaran pada ketiga
kasus hanya dinilai pada tahap patensi tuba, sedangkan hasil luaran kehamilan
belum dapat dinilai karena laporan ini dibuat baru 7 bulan berjalan.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2006: 30-4: 234-7]
Kata kunci: rekanalisasi tuba, laparoskopi
Copyrights © 2006