Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada
Vol 18, No 2 (2016)

SEBARAN LOKASI PENELURAN PENYU HIJAU (Chelonia mydas) DI PULAU SANGALAKI KEPULAUAN DERAWAN KABUPATEN BERAU

Andi Ibrahim (Department of Fisheries, Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada)
Djumanto Djumanto (Department of Fisheries, Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada)
Namastra Probosunu (Department of Fisheries, Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada)



Article Info

Publish Date
12 Aug 2016

Abstract

Populasi penyu hijau (Chelonia mydas) yang bertelur di kawasan konservasi kepulauan Derawan semakin menurun disebabkan oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah peneluran tiap induk penyu hijau dan korelasinya terhadap naungan, lebar pantai berpasir dan fase bulan. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 24 Januari–31 Maret 2015 berlokasi di Pulau Sangalaki. Pengamatan induk bertelur dilakukan dengan menyusur pantai tiap malam untuk menemukan induk yang sedang bertelur. Pada induk yang sudah bertelur, maka sarangnya diberi tanda di lokasi tempat bertelur. Pada hari berikutnya dilakukan penggalian sarang, pengambilan telur, dan pengukuran kondisi lingkungan tempat peneluran. Data yang dikumpulkan adalah jumlah telur tiap sarang dan kondisi lingkungan tempat peneluran. Kondisi lingkungan yang diukur meliputi kedalaman sarang, suhu substrat, jarak sarang terhadap naungan dan garis pantai saat surut terendah. Analisis data dilakukan secara deskriptif terhadap jumlah telur dan parameter lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan rerata jumlah telur tiap sarang sebanyak 97 butir dengan kisaran 45–127 butir, ukuran panjang karapas 96 cm dengan kisaran 86-107 cm, rerata kedalaman sarang 73 cm dengan kisaran 56-87 cm. Penyu yang bertelur semakin banyak akan menggali sarang semakin dalam, namun tidak ada korelasi antara panjang karapas dengan jumlah telur. Jumlah rerata induk penyu hijau yang bertelur di Pulau Sangalaki adalah 486 ekor/bulan dengan kisaran 168–1085 ekor/bulan. Musim barat dan timur mempengaruhi frekuensi peneluran. Frekuensi peneluran terjadi sepanjang tahun dan frekuensi peneluran paling tinggi terjadi pada bulan Agustus yang bertepatan dengan puncak musim Timur. Frekuensi peneluran pada musim Timur empat kali lebih banyak daripada saat musim Barat. Frekuensi pendaratan penyu hijau tidak dipengaruhi oleh fase bulan. Berdasarkan lokasi penyu hijau bertelur, pantai yang banyak dipilih untuk lokasi bertelur terdapat di sebelah barat laut, timur laut dan selatan Pulau Sangalaki. Sarang penyu hijau lebih banyak ditemukan pada daerah naungan vegetasi (64%) daripada daerah pasir terbuka (36%).

Copyrights © 2016






Journal Info

Abbrev

jfs

Publisher

Subject

Agriculture, Biological Sciences & Forestry Biochemistry, Genetics & Molecular Biology Immunology & microbiology

Description

Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada are published to promote a critical review of the various investigative issues of interest in the field of fisheries between the researchers, academics, students and the general public, as a medium for communication, dissemination, and utilization of wider ...