Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan dunia. WHO 2010 melaporkan Indonesia di peringkat kelima dengan jumlah terbesar insiden TB di dunia. Tahun 2011 Kota Bandar Lampung memiliki 1314 kasus TB . Pengobatan TB diberikan paket OAT-KDT. Penggunaan OAT dalam jangka panjang  mempunyai risiko  hepatotoksisitas ditandai dengan peningkatan enzim transaminase dan gangguan fungsi ginjal. Mengetahui distribusi frekuensi dan perbedaan kadar SGOT, SGPT, Ureum dan Kreatinin pada penderita TB Paru setelah 6 bulan pengobatan .Jenis penelitian eksperimen  rancangan One Group Pretest- Posttest. Variabel bebas Penderita TB Paru yang menjalani pengobatan 6 bulan dan variabel terikat SGOT, SGPT, Ureum dan Kreatinin, dilakukan pada September 2012- Juni 2013, jumlah sampel 75 orang. Diperoleh hasil jumlah penderita  yang mengalami peningkatan  kadar setelah 6 bulan pengobatan pada SGOT  56,0%, SGPT 49,3%, Ureum 54,6% dan Kreatinin 40,0%. Pada uji statistik didapatkan  P value SGOT(0,049), SGPT (0,159), Ureum (0,005) dan Kreatinin (0,133) dapat  disimpulkan,  ada perbedaan kadar SGOT dan Ureum, tetapi  tidak tidak ada  perbedaan kadar  SGPT  dan  Kreatinin pada  penderita TB  Paru setelah enam bulan pengobatan. Sebagian besar kadar meningkat  namun   dalam batas normal sehingga penggunaan OAT-KDT yang direkomendasikan oleh pemerintah masih aman untuk digunakan sesuai aturan dan diawasi oleh petugas kesehatan
Copyrights © 2013