Aplikasi passive air sampler (PAS) untuk pengukuran persistent organic pollutants (POPs) di udara ambien di Indonesia penting dipertimbangkan mengingat masih terbatasnya informasi POPs di udara ambien. Pengambilan sampel POPs dengan pasif ini lebih mudah dan efisien dibandingkan secara aktif. POPs sudah dilarang penggunaannya, namun karena sifatnya yang persisten POPs masih ditemukan di lingkungan. Tujuan penulisan ini untuk menyampaiakan hasil worskhop yang dilakukan di KORDI kerjasama AMETEC-UNU dalam aplikasi PAS untuk pengukuran POPS di udara ambien. PAS yang berisi poliurethan foam (PUF) dipaparkan selama 63 hari di daerah rural Citeko-Puncak dan di urban Cawang Jakarta untuk mengambil sampel gas secara pasif. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa beberapa senyawa POPs masih terdeteksi di udara ambien dengan konsentrasi di urban Jakarta lebih tinggi dibandingkan di rural Citeko Bogor. POPs yang terdeteksi di udara ambien adalah HCB, trans-chlordane, cis-chlordane, trans-nonachlor, PCBs, DDT dan turunannya yaitu pp’-DDT, op’-DDT, pp’-DDD, pp’-DDE, dengan kisaran konsentrasi 0.012-0.167 ng/m3. HCB di rural area cenderung berasal dari global transportasi. Total DDT di urban lebih tinggi dibandingkan dengan di rural namun rasio DDT/ DDE>1 yang ditemukan di rural area menunjukkan adanya indikasi terjadi masukan baru senyawa DDT. Rasio t rans chlordan/cis chlordane (TT/CC)>1,2 di urban juga menunjukkan indikasi terjadinya masukan baru senyawa chlordane. PCB di urban area terdeteksi lebih tinggi dan variasi lebih banyak dibandingkan di rural area, sehingga masih dimungkinkan adanya sumber pencemar lokal. Identifikasi lebih lanjut senyawa POPs yang sudah dilarang penting dilakukan untuk mendukung upaya pengawasan keberadaan senyawa POPs secara ilegal.
Copyrights © 2016