Penelitian ini bertujuan menggambarkan mengenai dinamikan subjective well-being pernikahan pada perempuan yang menikah disebabkan kehamilan. Partisipan terdiri atas dua istri yang telah menikah ketika remaja dan sekarang berusia 20-25 tahun. Kondisi sosial ekonomi keduanya berbeda. Kedua partisipan akan dianalisa dengan pendekatan kualitatif studi kasus kolektif. Hasil dari kedua partisipan menunjukkan bahwa ketika individu merasa kekurangan afeksi dari keluarganya maka akan timbul usaha untuk memenuhinya dari teman, pacar, bahkan dengan seks pranikah sehingga akhirnya hamil dan menikah. Adanya dukungan dan perhatian dari keluarga, baik itu keluarga inti maupun keluarga besar membantu individu menjalani pernikahannya dengan bahagia. Tetapi hal ini tidak selalu bertahan karena adanya konflik internal yang memengaruhi subjective well-being individu. The purpose of this research is to describe subjective well-being dynamics in women that married by pregnancy. Participants include two wives who have got married in range 20-25 years old with different socio-economic background. This research uses qualitative approach, collective case study. The result shows that when a person gets less affection from his/her family then he/she will attempt to look for satisfaction from his/her partner, which one of them is premarital sex. Social support from family is able to help individuals to achieve successful marriage. However, well being condition cannot last forever due to the internal conflict of individual.
Copyrights © 2015