Setiap komunitas memiliki kearifan lokal masing-masing. Kearifan lokal itu diperlukan untuk kepentingan keberlangsungan dan kenyamanan kehidupan mereka. Begitu juga dengan masyarakat Melayu yang ada di Dabong, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Masyarakat Melayu di Dabong, memiliki banyak kearifan lokal; salah satu di antaranya adalah berandep. Berandep adalah bentuk kegiatan gotong royong warga dalam mengerjakan ladang, yang dilakukan pada musim tanam dan musim panen. Dalam berandep, beberapa orang membentuk kelompok sesuai dengan areal wilayah hamparan ladang, bekerja sama secara terkordinasi tanpa ikatan lembaga formal. Setiap orang menjadi bagian dalam sistem itu dapat berperan sebagai kordinator sekaligus anggota. Mereka mengamalkan budaya ini karena memperhitungkan bahwa berladang bersama dan saling tolong mendatangkan banyak manfaat untuk diri mereka. Kesadaran tentang manfaat berandep di ladang kemudian menyebabkan mereka membawanya ke laut dalam bentuk kelompok memancing. Kelompok ini bersifat longgar, dalam pengertian anggotanya tidak terikat dan tidak memiliki pemimpin formal. Kordinasi soal keberangkatan dan pembagian tugas muncul secara spontan. Keputusan selama perlayaran di laut diambil bersama. Kelonggaran juga nampak pada sistem pembayaran ongkos. Ongkos kapal, terutama ongkos minyak untuk mesin kapal, pada mulanya sebelum dan saat berangkat ditanggung oleh pemilik kapal, kemudian setelah kembali dari laut dibayar oleh anggota kelompok. Hasil ikan yang diperoleh setiap anggota menentukan berapa besar setiap anggota membayar ongkos kepada pemilik kapal. Banyak jumlah ikan yang diperoleh banyak juga “potongan” yang harus diserahkan kepada pemilik kapal. Sebaliknya, sedikit ikan yang diperoleh, sedikit pula potongannya. Malah, anggota kelompok yang tidak mendapatkan hasil, tidak dikenakan biaya ongkos kapal. Cara ini mengedepankan prinsip saling membantu antar masyarakat, bukan mengedepankan perhitungan untung rugi secara ekonomi.
Copyrights © 2017