Yusriadi Yusriadi
IAIN Pontianak

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

BAHASA DAN GENDER DALAM MASYARAKAT MELAYU DI PEDALAMAN KALBAR Yusriadi Yusriadi
Raheema Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : PSGA LP2M IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.349 KB) | DOI: 10.24260/raheema.v5i2.1264

Abstract

Observers often consider that the Malay society lack of attention to aspects of gender. They use German, English, Francis, or Arabic, as comparisons. This article is presented to illustrate how gender aspects are considered in Malay language and society. The data are collected from Malay speakers in the rural area of Kapuas Hulu, West Kalimantan, shows that gender aspects are actually present in the language and culture of society. The community knows the concept or words of the pemali to maintain deviant behavior among women and men. Language-speaking communities also have vocabulary to show the division of tasks between women and men, and are reinforced by distinctive narratives found in folklore. These data show that gender aspects are actually felt and important in Malay language and society, especially Malay communities. [Para pemerhati sering menganggap masyarakat Melayu kurang memberikan perhatian pada aspek gender. Mereka menggunakan bahasa Jerman, Inggris, Francis, atau Arab, sebagai pembandingnya. Artikel ini disajikan untuk menggambarkan bagaimana aspek gender diperhatikan dalam bahasa dan masyarakat Melayu. Data yang dikumpulkan dari penutur bahasa Melayu di pedalaman Kapuas Hulu, Kalbar, menunjukkan bahwa aspek gender sebenarnya hadir dalam bahasa dan budaya masyarakat. Masyarakat mengenal konsep atau kata-kata pemali untuk menjaga prilaku menyimpang dari kalangan perempuan dan lelaki. Masyarakat penutur bahasa juga memiliki kosa kata untuk menunjukkan adanya pembagian tugas perempuan dan lelaki, serta diperkuat dengan narasi yang distingtif terdapat dalam cerita rakyat. Data ini menunjukkan bahwa aspek gender sebenarnya dirasakan dan penting dalam bahasa dan masyarakat Melayu, terutama masyarakat Melayu di pedalaman Kapuas Hulu, di Kalimantan Barat].
Identitas Orang Bugis di Dabong, Kalimantan Barat Saripaini Saripaini; Yusriadi Yusriadi
Khatulistiwa Vol 6, No 2 (2016)
Publisher : The Pontianak State Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.41 KB) | DOI: 10.24260/khatulistiwa.v6i2.649

Abstract

This paper discusses the Bugis people in West Kalimantan. The author seeks to see what sets the identity of the Bugis apart from the Malays, and what basis that can be used to identify their characteristics. The data were collected in Dabong village, a remote village in Kubu Sudistrict of Kubu Raya Regency, West Kalimantan, which takes 7 hours by public transport from Pontianak. The data were collected through field observations on people's lives as well as interviews with community leaders and some residents of Bugis descent. The interviews obtained information that the Bugis people had settled in Dabong for 6 generations and mingled with the local community. The Bugis descendants in Dabong have now become Malay. They introduce themselves with the Malay identity, and known as Malay to outsiders as well. The option to become Malay was made as a pragmatic consideration that in the village, the Malay society and culture was dominant. However, despite their Malay identity, the Bugis remain recognizable in terms of identity, which is reflected through cultural activities. Some Malay customs that they practice still exhibit obscure Bugis characteristics. The choice to preserve the traits of Bugis among people of Bugis descent is not because of ethnic consciousness, but rather due to cultural awareness, the awareness of their obligations to implement what has been practiced by their ancestors, and the belief that every ritual performed has consequences.
BERANDEP, KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT MELAYU DI DABONG, KUBU RAYA, KALIMANTAN BARAT Yusriadi Yusriadi
Khatulistiwa Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : The Pontianak State Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.758 KB) | DOI: 10.24260/khatulistiwa.v7i1.942

Abstract

Setiap komunitas memiliki kearifan lokal masing-masing. Kearifan lokal itu diperlukan untuk kepentingan keberlangsungan dan kenyamanan kehidupan mereka. Begitu juga dengan masyarakat Melayu yang ada di Dabong, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Masyarakat Melayu di Dabong, memiliki banyak kearifan lokal; salah satu di antaranya adalah berandep. Berandep adalah bentuk kegiatan gotong royong warga dalam mengerjakan ladang, yang dilakukan pada musim tanam dan musim panen. Dalam berandep, beberapa orang membentuk kelompok sesuai dengan areal wilayah hamparan ladang, bekerja sama secara terkordinasi tanpa ikatan lembaga formal. Setiap orang menjadi bagian dalam sistem itu dapat berperan sebagai kordinator sekaligus anggota. Mereka mengamalkan budaya ini karena memperhitungkan bahwa berladang bersama dan saling tolong mendatangkan banyak manfaat untuk diri mereka. Kesadaran tentang manfaat berandep di ladang kemudian menyebabkan mereka membawanya ke laut dalam bentuk kelompok memancing. Kelompok ini bersifat longgar, dalam pengertian anggotanya tidak terikat dan tidak memiliki pemimpin formal. Kordinasi soal keberangkatan dan pembagian tugas muncul secara spontan. Keputusan selama perlayaran di laut diambil bersama. Kelonggaran juga nampak pada sistem pembayaran ongkos. Ongkos kapal, terutama ongkos minyak untuk mesin kapal, pada mulanya sebelum dan saat berangkat ditanggung oleh pemilik kapal, kemudian setelah kembali dari laut dibayar oleh anggota kelompok. Hasil ikan yang diperoleh setiap anggota menentukan berapa besar setiap anggota membayar ongkos kepada pemilik kapal. Banyak jumlah ikan yang diperoleh banyak juga “potongan” yang harus diserahkan kepada pemilik kapal. Sebaliknya, sedikit ikan yang diperoleh, sedikit pula potongannya. Malah, anggota kelompok yang tidak mendapatkan hasil, tidak dikenakan biaya ongkos kapal. Cara ini mengedepankan prinsip saling membantu antar masyarakat, bukan mengedepankan perhitungan untung rugi secara ekonomi.
BERANDEP, KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT MELAYU DI DABONG, KUBU RAYA, KALIMANTAN BARAT Yusriadi Yusriadi
Khatulistiwa Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : The Pontianak State Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.758 KB) | DOI: 10.24260/khatulistiwa.v7i1.941

Abstract

Setiap komunitas memiliki kearifan lokal masing-masing. Kearifan lokal itu diperlukan untuk kepentingan keberlangsungan dan kenyamanan kehidupan mereka. Begitu juga dengan masyarakat Melayu yang ada di Dabong, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Masyarakat Melayu di Dabong, memiliki banyak kearifan lokal; salah satu di antaranya adalah berandep. Berandep adalah bentuk kegiatan gotong royong warga dalam mengerjakan ladang, yang dilakukan pada musim tanam dan musim panen. Dalam berandep, beberapa orang membentuk kelompok sesuai dengan areal wilayah hamparan ladang, bekerja sama secara terkordinasi tanpa ikatan lembaga formal. Setiap orang menjadi bagian dalam sistem itu dapat berperan sebagai kordinator sekaligus anggota. Mereka mengamalkan budaya ini karena memperhitungkan bahwa berladang bersama dan saling tolong mendatangkan banyak manfaat untuk diri mereka. Kesadaran tentang manfaat berandep di ladang kemudian menyebabkan mereka membawanya ke laut dalam bentuk kelompok memancing. Kelompok ini bersifat longgar, dalam pengertian anggotanya tidak terikat dan tidak memiliki pemimpin formal. Kordinasi soal keberangkatan dan pembagian tugas muncul secara spontan. Keputusan selama perlayaran di laut diambil bersama. Kelonggaran juga nampak pada sistem pembayaran ongkos. Ongkos kapal, terutama ongkos minyak untuk mesin kapal, pada mulanya sebelum dan saat berangkat ditanggung oleh pemilik kapal, kemudian setelah kembali dari laut dibayar oleh anggota kelompok. Hasil ikan yang diperoleh setiap anggota menentukan berapa besar setiap anggota membayar ongkos kepada pemilik kapal. Banyak jumlah ikan yang diperoleh banyak juga “potongan” yang harus diserahkan kepada pemilik kapal. Sebaliknya, sedikit ikan yang diperoleh, sedikit pula potongannya. Malah, anggota kelompok yang tidak mendapatkan hasil, tidak dikenakan biaya ongkos kapal. Cara ini mengedepankan prinsip saling membantu antar masyarakat, bukan mengedepankan perhitungan untung rugi secara ekonomi.
“KELOMPOK LAIN” DALAM PANDANGAN PELAJAR DI WILAYAH BEKAS KONFLIK DI SANGGAU LEDO, KALBAR Yusriadi Yusriadi; Ismail Ruslan
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.31 KB) | DOI: 10.24260/jhjd.v13i2.1472

Abstract

In the midst of a pluralistic society, views of other groups are often vis a vis placed at the opposite angle. Group identity is built pragmatically as a form of attitude towards other groups. This paper aims to reveal how the views of students in former conflict areas in West Kalimantan, namely in Sanggau Ledo, towards other groups. Sanggau Ledo is a multi-ethnic area and was the starting point for the 1997 riots, with riots extending to several parts of West Kalimantan. Data collected from a group of students at Bengkayang Aliyah State Madrasah in Sanggau Ledo, shows that they still remember the bloody incident. The narratives they received about the riots were not accompanied by negative narratives about other groups. Instead, as a young generation, they make it a lesson. Other groups are seen from the proportional side, that there are no ethnic crimes, only ethnic elements. Other ethnic groups are not enemies and rivals. Problems that may arise from the behavior of group members should be seen as individual behavior, not group behavior. They must be respected as part of the nation's children. The views of these students can be a comparison that not all students want violence and hostility towards other groups. Keywords: Other Groups, Conflict, Sanggau Ledo, Compound Society, Group Identity Di tengah masyarakat yang majemuk, pandangan terhadap kelompok lain sering kali vis a vis diletakkan pada sudut yang bertentangan. Identitas kelompok dibangun secara pragmatis sebagai bentuk bersikap menghadapi kelompok lain. Tulisan ini bertujuan mengungkapkan bagaimana pandangan pelajar di wilayah bekas konflik di Kalimantan Barat, yaitu di Sanggau Ledo, terhadap kelompok lain. Sanggau Ledo adalah daerah yang multi-etnis dan pernah menjadi titik mula kerusuhan tahun 1997, yang kerusuhan meluas ke beberapa bagian di wilayah Kalimantan Barat. Data dikumpulkan dari sekelompok pelajar di Madrasah Aliyah Negeri Bengkayang di Sanggau Ledo, menunjukkan bahwa mereka masih mengingat peristiwa berdarah tersebut. Narasi yang mereka terima mengenai kerusuhan tidak diiringi dengan narasi negatif mengenai kelompok lain. Justru, sebagai generasi muda, mereka menjadikannya pelajaran. Kelompok lain dilihat dari sisi yang proporsional, bahwa tidak ada kejahatan etnik, yang ada hanya oknum dari kelompok etnik. Etnik lain bukanlah musuh dan rival. Masalah yang mungkin timbul dari prilaku anggota kelompok hendaklah dilihat sebagai prilaku individu, bukannya prilaku kelompok. Mereka harus dihargai sebagai bagian dari anak bangsa. Pandangan para pelajar ini dapat menjadi bahan bandingan bahwa tidak semua pelajar menginginkan kekerasan dan permusuhan terhadap kelompok lain. Kata Kunci: Kelompok Lain, Konflik, Sanggau Ledo, Masyarakat Majemuk, Identitas Kelompok
NARASI KEBAHAN SEBAGAI RESOLUSI KONFLIK PADA MASYARAKAT NANGA PINOH, MELAWI Yusriadi Yusriadi; Ismail Ruslan Ismail Ruslan; Hariansyah Hariansyah
Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi) Vol 4, No 1 (2018): Jurnal SMaRT Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.083 KB) | DOI: 10.18784/smart.v4i1.583

Abstract

Narasi selalu ada menyertai kehidupan masyarakat, membentuk gambaran mengenai banyak hal tentang mereka. Narasi dapat menggambarkan bagaimana pikiran, harapan dan prilaku masyarakat, langsung atau tidak langsung. Narasi yang ditampilkan melalui bahasa memiliki kekuatan lebih untuk memvisualisasi kekayaan budaya penggunanya. Kehadiran istilah tertentu dalam bahasa masyarakat tertentu menunjukkan kekayaan penggunanya. Oleh karena itu, bahasa sering dilihat sebagai jendela untuk melihat sesuatu yang terdapat dalam komunitas pengguna.Tulisan ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana narasi melalui kehadiran istilah tertentu pada suku Kebahan, Melawi, yang terkait resolusi konflik. Data yang diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi di Nanga Pinoh dan sekitarnya, pada Oktober 2017, menunjukkan bahwa penutur Kebahan memiliki istilah dan narasi tentang hidup rukun. Konsep Kebahan Penyelopat, ngawa’, kritik Kerampak Kebahan, dan lain-lain, merupakan contoh bagaimana mereka mengingatkan diri tentang peran dan kedudukan mereka sebagai penyeimbang dalam masyarakat majemuk. Posisi ini terus dikukuhkan melalui pengukuhan identitas Kebahan dan penanaman kesadaran bahwa Kebahan dapat merangkul orang yang berbeda agama (Islam dan Katolik) karena mereka dapat "masuk" ke dalam suku-suku tersebut.
LITERASI BUDAYA ETNIK MELALUI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI IAIN PONTIANAK Yusriadi Yusriadi; Dedy Ari Asfar
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman Vol 2 No 1 (2023)
Publisher : The Institute for Research and Community Service (LP2M) of Pontianak State Institute of Islamic Studies (IAIN Pontianak)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.938 KB) | DOI: 10.24260/jpkk.v2i1.1370

Abstract

This research aims to describe the efforts to improve students ' understanding and literacy in matters of ethnic culture through learning activities in Indonesian language courses in universities. This study was carried out qualitatively by using first semester students who took the subject of Indonesian in FUAD class. In this class, students are asked to keep a diary. After that, each of them was asked to provide feedback about the progress obtained after participating in the diary writing program. Data were collected through in-question and FGD as well as written questions. The Data is then processed qualitatively based on thematic approach. In conclusion, students who take Indonesian courses admit that they have made significant progress in understanding ethnic groups and cultures. Through the task of making up about different ethnic friends, the experience of participating in cross-ethnic cultural activities, they re-create positive memories about other ethnic groups. This study shows that understanding of ethnicity can be integrated through learning activities.