Upaya pemerintah dalam mengendalikan jumlah penduduk adalah dengan program Keluarga Berencana (KB) menggunakan kontrasepsi. Kontrasepsi adalah alat atau obat yang digunakan untuk mencegah konsepsi (kehamilan). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi penggunaan alat dan obat kontrasepsi (Alokon) di masyarakat. Tempat penelitian ini dilakukan di kabupaten Bandung pada bulan Juli-Agustus 2013. Penelitian ini menggunakan metoda observasi krosseksional dengan kuisioner yang berisi pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan, sikap, dan perilaku dari 300 responden mengenai penggunaan Alokon. Hasil studi dianalisis secara statistik dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil studi menunjukan bahwa 87% responden mengetahui program pemerintah dalam hal jumlah anak yang dianjurkan (dua anak lebih baik). Responden memahami Alakon sebagai sarana menjarangkan kehamilan (78%) dan dapat digunakan sebagai kebutuhan (42%). Jenis kontrasepsi yang paling dikenal dan digunakan oleh responden adalah : Implant (5%), IUD (19%), Pil KB (20%) dan Injeksi (23%). Selain itu, responden menyakini bahwa tidak efektif untuk menunda kehamilan (82%). Adanya kekhawatiran responden terhadap efek samping Alokon (56%), antara lain kegemukan (42%65). Alokon lebih banyak digunakan oleh wanita (75%) dibandingkan laki-laki (4%). Alokon lebih banyak dipilih (43%) dibandingkan dengan alat (19%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa responden telah memiliki pengetahuan yang baik dalam hal Alokon dan penggunaannya. Mengingat Alokon jenis obat (Pil KB) banyak dipilih oleh responden, diperlukan peran apoteker di pelayanan farmasi dalam memberikan informasi yang benar mengenai cara penggunaannya untuk mencapai efektivitasnya sebagai kontrasepsi (pencegah kehamilan).
Copyrights © 0000