Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
Vol. 19 No. 2 (2018)

PERAJIN KERIS WANITA: PEMBERDAYAAN WANITA DI TENGAH BUDAYA PATRIARKI MADURA

Sudrajat, Unggul (Unknown)



Article Info

Publish Date
05 Jan 2019

Abstract

Keris dianggap sebagai pusaka yang melambangkan kewibawaan dan kehormatan seorang pria. Dalam budaya patriarki, keris identik dengan dunia laki-laki. Keris pusaka hanya diberikan kepada anak laki-laki tertua dalam keluarga. Apabila semua anaknya perempuan, maka keris pusaka akan diwariskan kepada menantu laki-laki. Dengan demikian, wanita tidak diperbolehkan memiliki keris atau pun terlibat dalam pembuatan keris. Akan tetapi, kondisi tersebut menujukkan hal yang berbeda di Sumenep, Madura. Masyarakat di sana memperbolehkan wanita untuk membantu kaum pria dalam proses pembuatan keris. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk pemberdayaan wanita dalam pembuatan keris di Sumenep, Madura. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi sejarah, sosial-budaya, dan ekonomi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wanita di Sumenep terlibat dalam pembuatan perlengkapan keris seperti warangka dan handle serta bilah keris. Selain proses pembuatan keris, para wanita juga dipercaya untuk mengelola keuangan hasil penjualan keris.____________________________________________________________Keris is considered a valuable heirloom that symbolizes the authority and honor of a man. In patriarchal culture, keris is identical with the male world. Keris is only given to the oldest son in the family. If all of their children are girls, then the heirloom will be passed on to the son-in-law. Thus, women are not allowed to have keris or are involved in making keris. However, in Sumenep, Madura the situation appears in the opposite. The community allows women to help men in the process of making keris. This study aims to analyze the form of women’s empowerment in making keris in Sumenep, Madura. The method used in this study is qualitative with a combination of historical, socio-cultural, and economics approaches. Data are collected through observation, in-depth interviews, and documentations. The results of this study indicate that women in Sumenep were involved in making components of keris such as warangka (sheats), keris handles, and keris bars. In addition to it, the women were also trusted to manage financial matters of the process.

Copyrights © 2018






Journal Info

Abbrev

patrawidya

Publisher

Subject

Arts Social Sciences

Description

The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words ...