Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MENAKAR KEARIFAN AGAMA DENGAN BUDAYA MEASURING RELIGION WISDOM BY CULTURE Sudrajat, Unggul
Kebudayaan Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v11i2.23

Abstract

AbstractThe object of the research is in Rembang, Central Java. It is related to the conflictof Sapta Darma faith. beliefs is the mistical human admission . Meanings of religionshould be understood as part of the knowledge. This research is motivated by researcherâ??sdesire to reveal the roots of the problem which lead to the conflict between religions orbeliefs that often occurs in the community. The main issue of this study is focused onhow the actions of the government and religious leaders that have authorities to solve theproblems. The purpose of this study is to find the problem roots that lead to the actualissues of belief in society. This study is included into the field research with the object ofconflict is Sapta Darma belief in Rembang by using descriptive-analytic point of view.the Sources of the data used in the study are interview, documents, and field observations.This research uses an anthropological approach. Based on the research results, the caseof incendiarism in Blando Hamlet, Plawangan Village, Kragan District in Rembang hassocial conflicts that is caused by reliance. the conflict does not necessarily have to endwith the burning, but there are many other solutions that can be used as a unifying one ofthem is by a dialogue. By using a dialogue the conflict can be minimized. AbstrakObjek penelitian ini di Rembang, Jawa Tengah terkait dengan konflik kepercayaanSapta Darma. Kepercayaan merupakan pengakuan manusia terhadap sesuatu yang gaib.Pemaknaan terhadap agama harus dipahami sebagai bagian dari pengetahuan bahwa agamasebagai ilmu. Penelitian ini dilatarbelakangi keinginan peneliti untuk mengungkapkanakar permasalahan yang mengakibatkan adanya konflik antar agama atau kepercayaanyang kerap terjadi di masyarakat. Pokok pembahasan dalam penelitian ini terfokus padabagaimana tindakan pemerintah dan tokoh agama yang berwenang menyikapi persoalanpersoalankepercayaan. Tujuan dari penelitian ini menemukan akar permasalahan yangmengakibatkan adanya isu-isu aktual kepercayaan yang terjadi di masyarakat. Penelitianini termasuk penelitian lapangan dengan objek konflik kepercayaan Sapta Darma diRembang dengan sudut pandang deskriptif-analisis. Sumber data yang digunakan dalampenelitian wawancara, dokumen-dokumen, dan observasi dilapangan. Penelitian inimenggunakan pendekatan antropologis. Berdasarkan hasil penelitian, kasus pembakaranrumah ibadah di Dukuh Blando, Desa Plawangan, Kecamatan Kragan di Rembangtelah terjadi konflik sosial yang diakibatkan aliran kepercayaan. Konflik ini tidak sertamertaharus berakhir dengan pembakaran, akan tetapi masih banyak solusi lain yang bisadijadikan pemersatu salah satunya adalah dialog, sebab dengan berdialog konflik pun bisadiminimalisir.
RIWAYAT INDUSTRI KERIS DI SUMENEP, MADURA Sudrajat, Unggul
Kebudayaan Vol 12 No 2 (2017)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v12i2.245

Abstract

AbstrakKeris merupakan kekayaan budaya yang pada permulaannya diindikasikan sebagai senjata khas suku Melayu dan menyebar ke seluruh Nusantara. Sebagai sebuah senjata, keris mempunyai keistimewaan tersendiri dikarenakan terdapatnya pamor di tubuh keris. Keunikan dan kerumitan pembuatan keris seiring dengan berkembangnya mitos kepercayaan terhadap keris tentang kekuatan adikodrati yang bisa membantu manusia dalam menghadapi persoalan kehidupan pun klaim kekuasaan. Pada akhirnya keris berkembang tidak hanya sebagai benda mistik, namun juga bernilai ekonomi. Maka, industri keris mulai mendapatkan angin segar khususnya di Sumenep setelah permintaan pasar mulai meningkat. Penelitian ini bermaksud menelaah perkembangan industri keris di Sumenep sebagai sentra terbesar pembuatan keris di Nusantara. Metode yang digunakan adalah kulitatif deskriptif dengan tiga tahapan yang meliputi studi pustaka (desk research), pengumpulan data dan focus group discussion (FGD). Dari hasil studi yang dilakukan, diketahui bahwa perkembangan industri keris di Sumenep sudah ada sejak masa Juâ?? Pande, pertengahan abad ke-19. Hanya saja industri keris sempat terhenti setelah mengalami represi dari Pemerintah Belanda dan Jepang di paruh pertama abad ke-20. Setelah kemerdekaan, industri keris kembali berkembang dengan berpusat di tiga Kecamatan yaitu Bluto, Saronggi, dan Lenteng. Dalam perkembangannya, industri keris di Sumenep mengalami pasang surut karena faktor represi dari penguasa kolonial Belanda dan Jepang.
PERAJIN KERIS WANITA: PEMBERDAYAAN WANITA DI TENGAH BUDAYA PATRIARKI MADURA Sudrajat, Unggul
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 2 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.917 KB) | DOI: 10.52829/pw.119

Abstract

Keris dianggap sebagai pusaka yang melambangkan kewibawaan dan kehormatan seorang pria. Dalam budaya patriarki, keris identik dengan dunia laki-laki. Keris pusaka hanya diberikan kepada anak laki-laki tertua dalam keluarga. Apabila semua anaknya perempuan, maka keris pusaka akan diwariskan kepada menantu laki-laki. Dengan demikian, wanita tidak diperbolehkan memiliki keris atau pun terlibat dalam pembuatan keris. Akan tetapi, kondisi tersebut menujukkan hal yang berbeda di Sumenep, Madura. Masyarakat di sana memperbolehkan wanita untuk membantu kaum pria dalam proses pembuatan keris. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk pemberdayaan wanita dalam pembuatan keris di Sumenep, Madura. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi sejarah, sosial-budaya, dan ekonomi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wanita di Sumenep terlibat dalam pembuatan perlengkapan keris seperti warangka dan handle serta bilah keris. Selain proses pembuatan keris, para wanita juga dipercaya untuk mengelola keuangan hasil penjualan keris.____________________________________________________________Keris is considered a valuable heirloom that symbolizes the authority and honor of a man. In patriarchal culture, keris is identical with the male world. Keris is only given to the oldest son in the family. If all of their children are girls, then the heirloom will be passed on to the son-in-law. Thus, women are not allowed to have keris or are involved in making keris. However, in Sumenep, Madura the situation appears in the opposite. The community allows women to help men in the process of making keris. This study aims to analyze the form of women’s empowerment in making keris in Sumenep, Madura. The method used in this study is qualitative with a combination of historical, socio-cultural, and economics approaches. Data are collected through observation, in-depth interviews, and documentations. The results of this study indicate that women in Sumenep were involved in making components of keris such as warangka (sheats), keris handles, and keris bars. In addition to it, the women were also trusted to manage financial matters of the process.
Pemanfaatan Situs Cagar Budaya Pelawangan Dalam Pembelajaran Sejarah Lokal Sudrajat, Unggul; Mulyadi, Mulyadi
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 21 No. 2 (2020): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.303

Abstract

Pembelajaran sejarah lokal dapat dijadikan sebagai media untuk mengembangkan rasa kepedulian dan ketertarikan peserta didik terhadap kedaerahan mereka. Melalui sejarah lokal, peserta didik dapat belajar tentang keunikan daerahnya, seperti budaya dan kearifan lokal. Salah satu sumber yang dapat dijadikan sebagai pembelajaran sejarah lokal adalah Situs Cagar Budaya Pelawangan, di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan Situs Cagar Budaya Pelawangan dalam pembelajaran sejarah lokal. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, serta studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan menjadikan Situs Pelawangan sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal, peserta didik memperoleh pengetahuan baru tentang keunikan budaya dan kearifan lokal dari kehidupan masyarakat masa lalu. Keunikan tersebut berwujud pohon tetenger yang menjadi penanda adanya situs yang terpendam.