Data Balai Bendungan Kementerian PUPR 2015 bahwa kontribusi energi PLTA di 208 waduk besar di Indonesia yang sudah beroperasi kurang lebih 5.833 MW (kapasitas terpasang). Pemerintah saat ini telah melakukan assessment terhadap waduk-waduk potensial untuk dibangun PLTA maupun waduk eksisting yang terdapat PLTA untuk ditingkatkan daya kapasitasnya. Hasil identifikasi awal bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kurang optimalnya produksi listrik pada waduk. Dalam kasus ini adalah Waduk Bili-bili dimana permasalahan sedimentasi di waduk yang melebihi kapasitas tampung. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor apa yang perlu perhatian utama sehingga dapat meningkatkan optimalisasi fungsi PLTA Bendungan Bili-bili dalam mendukung ketahanan energi dengan mempertimbangkan asumsi-asumsi penting yang digali melalui FGD dengan para pakar. Metode penelitian dengan pendekatan kualitatif melalui analisis Strategic Assumption Surfacing and Testing untuk mengungkap asumsi kritis dan penting secara hierarkis yang melandasi program peningkatan optimalisasi fungsi PLTA Bendungan Bili-bili. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlu perhatian utama pada asumsi adanya potensi ketersediaan air untuk pengoperasian bendungan sepanjang tahun, adanya konservasi wilayah hulu untuk menjaga ketersediaan air, dan adanya dukungan untuk pengoperasian waduk sepanjang tahun. Asumsi penting selanjutnya untuk diperhatikan adalah terpenuhinya debit air untuk pengoperasian bendungan sepanjang tahun, adanya kebijakan pemerintah terkait alokasi air untuk bendungan sepanjang tahun, kesiapan pengelola waduk untuk menyesuaikan pola operasi waduk, adanya mitigasi dampak negatif pemanfaatan air waduk sepanjang tahun, kesiapan PLN untuk menyerap energi listrik sepanjang tahun, adanya kemudahan aspek perizinan PEMDA, adanya komitmen pemerintah dalam menyediakan anggaran dalam pengoperasian waduk, dan adanya koordinasi lintas lembaga yang baik dalam pendayagunaan Sumber Daya Air.
Copyrights © 2018