Shipping and trade Bugis - Makassar is one cultural phenomenon in the southern peninsula of Sulawesi rooted since archaic times . Shipping and trade to Papua as expressed in this paper relates to the early days of contact , commodity trading , and archaeological evidence of the existence of the Bugis - Makassar peramanen who live in this area as an intensive relationship implications . It aims to show to the networks - ‘s archipelago , in addition to showing the impact of a long-term relationship between the Bugis - Makassar and Papua which created solidarity and openness that have a place to settle in the local ethnic settlements together . To illustrate these aspects of archaeological survey and literature review , especially for archaeological evidence in the context of shipping and trade XVII - XIX centuries in the Bird’s Head region of Papua into the gate . Based on the data obtained concluded that the diaspora Bugis - Makassar to Papua unrelated to war factor, but purely an economic boost, especially for commodities and profitable market. In the long run some of the traders community decided to stay permanently, but not exclusive residential building.AbstrakPelayaran dan perdagangan Bugis-Makassar merupakan salah satu fenomena kebudayaan di semenanjung selatan Sulawesi yang berakar sejak zaman arkaik. Pelayaran dan Perdagangan ke Papua yang diungkap dalam tulisan ini berkaitan dengan masa awal kontak, komoditas dagang, dan bukti arkeologis adanya orang Bugis-Makassar yang tinggal secara peramanen di kawasan ini sebagai implikasi hubungan intensif. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan jejaring ke-Nusantara-an, selain menunjukkan dampak hubungan jangka panjang antara orang Bugis-Makassar dan Papua yang menimbulkan solidaritas dan keterbukaan sehingga mendapat tempat untuk menetap dalam pemukiman etnis lokal secara bersama-sama. Untuk menggambarkan aspek-aspek tersebut dilakukan survei arkeologis dan kajian pustaka, khususnya mencari bukti arkeologis dalam konteks pelayaran dan perdagangan abad XVII-XIX di wilayah Kepala Burung yang menjadi pintu gerbang Papua. Berdasarkan data-data yang diperoleh disimpulkan bahwa diaspora Bugis-Makassar ke Papua tidak terkait dengan faktor perang, melainkan murni dorongan ekonomi, terutama mencari dan memasarkan komoditas yang menguntungkan. Dalam jangka panjang beberapa diantara komunitas pedagang memutuskan tinggal secara permanen, tetapi tidak membangun pemukiman eksklusif.
Copyrights © 2013