Tetrasiklin merupakan antibiotik yang umum digunakan sebagai obat-obatan veteriner untuk pencegahan penyakit. Penggunaan yang berlebihan dapat meninggalkan residu dalam produk peternakan tersebut, termasuk daging ayam. Implikasi klinis yang dapat terjadi, antara lain alergi, keracunan, dan resistensi. Residu tetrasiklin dalam daging ayam pedaging dapat dianalisis menggunakan spektrofometer ultraviolet dengan teknik adisi standar. Daging ayam diekstraksi lebih dulu menggunakan metode Matrix Solid Phase Dispersion (MSPD). Hasil uji perolehan kembali berdasarkan metode penambahan standar sebesar 84,40% dengan batas keberterimaan sebesar 80-110%. Penyimpangan baku relatif yang diperoleh 1,36%; batas deteksi dengan konsentrasi 5,16 µg/ml; batas kuantitasi 5,54 µg/ml; dan linieritas dengan nilai koefisien korelasi 0,9997. Hasil uji analisis sampel daging ayam pedaging yang berasal dari tiga pusat perbelanjaan di kota Bandar Lampung menunjukkan bahwa kadar residu tetrasiklin 42,40 mg/kg; 61,05 mg/kg; dan 44,47 mg/kg. Nilai tersebut telah melebihi batas maksimum residu tetrasiklin dalam daging menurut SNI 01-6066-2000, yaitu 0,1 mg/kg.
Copyrights © 2016