Artikel ini, dengan orientasi konseptual-teoretis dan metodologis, akan membahas cairnya kuasa budaya dan negara dalam struktur naratif sastra, dengan menggunakan pendekatan poskolonial. Narasi sastra bisa diposisikan sebagai produk representasi yang menghadirkan subjektivitas cair, berupa tokoh naratif dan wacana partikular, terkait permasalahan sosial-budaya, khususnya hibriditas kultural. Kehadiran modernitas dan berlangsungnya praktik budaya tradisional dalam masyarakat pascakolonial menyebabkan timbul permasalahan tersebut. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa subjektivitas cair, di satu sisi, bisa memunculkan wacana emansipasi untuk memberdayakan masyarakat lokal dan, di sisi lain, bisa memunculkan resistensi terhadap kuasa berbasis budaya tersebut. Oposisi biner antara Barat dan Timur menjadi sangat cair, karena subjek poskolonial bisa menggunakan pemikiran modern untuk mendekonstruksi keutuhan modernitas maupun keutuhan budaya tradisional. Namun, ketika negara menerapkan neoliberalisme, subjektivitas cair dan hibriditas kultural perlu ditafsir-ulang. Kuasa budaya tradisi dan negara akan mendapatkan pemaknaan-baru dan resistensi; karena prinsip kebebasan individual dalam hukum pasar menuntut kehadiran minimum kedua entitas tersebut. Kondisi itu memunculkan peluang untuk mengkritisi dan memodifikasi kajian poskolonial.Kata kunci: struktur naratif, subjektivitas cair, resistensi, kajian poskolonial, neoliberalisme
Copyrights © 2012