Makam-makam kuno sebagai bukti sejarah di Indonesia banyak yang sudah direnovasi dan menyisakan informasi yang sedikit tentang tokoh yang terkait dengannya, hal ini menyulitkan kajian arkeologi secara mandiri sebagaimana terjadi pada makam Sultan La Elangi yang sudah direnovasi. Metode yang digunakan yaitu metode penelitian deskriptif eksploratif, yaitu penelitian kualitatif yang dilakukan dengan memberikan gambaran tentang data arkeologi makam dan peran Sultan La Elangi. Penelitian menunjukkan bahwa; Bentuk awal makam Sultan La Elangi cukup sederhana dan tidak menunjukkan kesan mewah sebagaimana layaknya seorang raja. Morfologi makam Sultan hanya terdiri dari nisan tanpa jirat permanen. Bentuk nisan menyerupai menhir tanpa ukiran yang terbuat dari endapan tetesan air gua batu, yang disebut stalaktit atau stalakmit. Hal ini dimaksudkan untuk melanggengkan suasana sejuk pada makam. Sementara peran Sultan La Elangi yaitu pada masa pemerintahannya banyak sistem yang dibuat dan ditata guna kelancaran roda pemerintahan. Diantaranya, undang-undang dasar kesultanan yang sarat dengan konsep Martabat tujuh.
Copyrights © 2015