cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2013)" : 21 Documents clear
PROFIL URETRITIS GONOKOKUS DAN NON-GONOKOKUS PADA PRIA DI RSUP. PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE 2009 – 2011 Silalahi, Yan David Parulian; Suling, Pieter L.; Kapantow, Marlyn G.
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.1178

Abstract

Abstract: Urethritis, an inflammation of the urethra, is divided into gonococcal urethritis and non-gonococcal urethritis. It is a venereal disease transmitted through sexual contact resulting in a complaint of pain sensation during urination. This was a descriptive retrospective study. Data were obtained from the registration of sexually transmitted infections from the Department of Dermatology and Venereal Diseases Prof Dr. R.D. Kandou Hospital Manado. The results showed that from 2009 until 2011 there were 82 male patients with urethritis; 56 patients (68.5%) with gonococcal urethritis and 26 patients (31.5%) with non-gonococcal urethritis. The highest number of patients (51 patients, 62%) were at the ages of 25-44 years. The most frequent patient jobs were civil employes (38 patients, 46.4%), followed by students (10 patients, 12%), and jobless (8 patients, 10%). The most common sexual partners were female prostitutes (38 patients, 46.3%). The most frequent complaint of gonococcal and non-gonococcal urethritis patients was pain sensation during urination (35 patients, 42.7%). Conclusion: In this study, most male patients with gonococcal and non-gonococcal urethritis were at the ages of 25-44 years, worked as civil employees, and had sexual intercourse with female prostitutes. The most common complaint among them was pain sensation during urination Keywords­:­­­ urethritis, gonococcal, non-gonococcal, males Abstrak : Uretritis adalah peradangan pada uretra dan terbagi menjadi uretritis gonokokus dan non gonokokus. Penyakit ini tergolong pada infeksi menular seksual (IMS) dengan penularan melalui hubungan seksual dan keluhan berupa nyeri saat berkemih. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif; data diambil dari buku register infeksi menular seksual Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RSU Prof Dr. R.D. Kandou Manado. Hasil penelitian memperlihatkan dari 82 kasus laki-laki dengan uretritis gonokokus (UG) non gonokokus (UNG) tahun 2009-2011 terdapat 56 pasien (68,5%) dengan UG dan 26 pasien (31,5%) dengan UNG. Usia 25-44 tahun merupakan kelompok usia terbanyak yaitu 51 pasien (62%). Jenis pekerjaan yang tersering untuk pasien UG dan UNG ialah pegawai sebanyak 38 orang (46,4%). Pasangan seksual pasien uretritis gonokokus dan non gonokokus yang tersering ditemukan ialah wanita pekerja seksual (WPS) sebanyak 38 orang (46,3%). Keluhan tersering pada pasien uretritis gonokokus dan non gonokokus ialah nyeri saat berkemih sebanyak 35 orang (42,7%). Simpulan: Dalam penelitian ini, pasien laki-laki dengan uretritis gonokokus dan non gonokokus tersering pada kelompok usia 25-44 tahun, jenis pekerjaan pegawai, dan pasangan seksual terbanyak wanita pekerja seksual. Keluhan yang tersering dikemukakan ialah nyeri saat berkemih. Kata kunci: uretritis, gonokokus, non-gonokokus, laki-laki
STATUS BESI PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG SEDANG MENJALANI HEMODIALISIS DI BLU RSU.Prof.Dr.R.D KANDOU MANADO Ombuh, Cynthia
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.3293

Abstract

ABSTRACTBackground: Chronic Kidney Disease (CKD) is kidney damage that occurred during the three months or more with a glomerular filtration rate less than 60 ml/men./1, 73 m2. One complication that often occurs in patients with CKD is anemia. Anemia in CKD can be caused by several factors such as EPO deficiency, Iron Deficiency, etc. and one of the parameters commonly examined in patients with CKD who are undergoing hemodialysis is composed of iron status Serum Iron(SI), TIBC, Transferrin Saturation, Ferritin.Objective: Looking iron status in CKD patientsMethods: The study design was a descriptive look at the medical records of the patients who are undergoing hemodialysis with purposive sampling technique.Results: In patients with CKD undergoing hemodialysis anemia. Anemia all experienced that often caused by the presence of erythropoietin deficiency. But there are also caused by iron deficiency from a status marked where the iron transferrin saturation <20%. There was also found an increase in ferritin> 400 ng / ml caused by the presence of an infection such as anemia or chronic disease can also be caused due to frequent blood transfusions. Treatment for iron overload in patients with CKD, especially regular hemodialysis patients who undergo repeated blood transfusions can be re-utilization by the use of ESA, anemia in CKD caused by deficiency erythropoietin.ESA therapy may also be given.Conclusion: Based on the results of research in the department of hemodialysis room Prof.Dr.RD Kandou obtained all patients with chronic kidney disease decreased hemoglobin, and Serum Iron which fell by 40%, the normal 60%, and ferritin were increased by 46.7% , that no data 53.3% and TIBC were decreased by 80%, as much as 20% of normal and Transferrin Saturation fell by 6.7%, which increased by 3.3% and as much as 90% of normal.Keywords: CKD, iron statusABSTRAKLatar Belakang : Penyakit Ginjal Kronik (PGK) adalah kerusakan ginjal yang terjadi selama atau lebih tiga bulan dengan laju filtrasi glomerulus kurang dari 60 ml/men./1,73 m2. Salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien PGK adalah anemia. Anemia pada PGK dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti: Defisiensi EPO, Defisiensi Besi, dll dan salah satu parameter yang biasa diperiksa pada pasien PGK yang sedang menjalani hemodialisis adalah status besi yang terdiri dari Serum Iron (SI), TIBC, Saturasi Transferin, Feritin.Tujuan : Melihat Status besi pada pasien PGKMetode : Desain penelitian adalah deskriptif dengan melihat data rekam medik para pasien yang sedang menjalani hemodialisis dengan teknik purposive sampling.Hasil : Pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis semuanya mengalami anemia.Anemia yang sering terjadi disebabkan oleh karena adanya defisiensi eritropoetin. Namun ada juga yang disebabkan oleh defisiensi besi yang ditandai dari pemeriksaan status besi dimana saturasi transferin < 20%. Ada juga didapatkan peningkatan Feritin > 400 ng/ml yang disebabkan oleh karena adanya infeksi seperti pada anemia penyakit kronis atau juga bisa disebabkan karena seringnya transfusi darah. Penatalaksanaan untuk kelebihan zat besi pada pasien PGK terutama pasien hemodialisis reguler yang mengalami transfusi darah berulang dapat dire-utilisasi dengan pemakaian ESA, anemia pada PGK yang disebabkan oleh dekfisiensi eritopoetin juga dapat diberikan terapi ESA.Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian di ruangan hemodialisis di RSUP Prof.Dr.R.D Kandou didapatkan semua pasien penyakit ginjal kronik mengalami penurunan Hb,dan Serum Iron yang menurun sebanyak 40%, yang normal sebanyak 60%, dan Feritin yang meningkat sebanyak 46,7%, yang tidak ada data sebanyak 53,3% dan TIBC yang menurun sebanyak 80%, yang normal sebanyak 20% dan Saturasi Transferin yang menurun sebanyak 6,7% yang meningkat sebanyak 3,3% dan yang normal sebanyak 90%.Kata Kunci: PGK, Status Besi
PEMERIKSAAN BASIL TAHAN ASAM (BTA) PADA SPUTUM PENDERITA BATUK ≥ 2 MINGGU DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM BLU RSUP. PROF. Dr. R.D KANDOU MANADO Susanti, Diana
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.4037

Abstract

Abstrack: Cough ≥ 2 weeks are the main symptoms of tuberculosis diagnosis accompanied by phlegm.Symptoms that accompany the cough bleed, decreased appetite,weight loss, night sweats (no activity) and no signs of infection. Tuberculosis is a disease of the lungs caused by gram-positive rod bacterium (Mycobakterium tuberculosis). This research is a descriptive nature experiment is to determine the presence of bacteria mycobacterium tuberculosis in sputum of patients cough ≥ 2 weeks in the Internal Medicine Clinic Dr BLU. Prof. Dr. Kandou with smear using Ziehl Neelsen.The results are 50 samples, 23 (46%) positive and 27 (54%) negative.Presentation by gender with the most positive smear on male sex 65.2% from than 34.8% of women.Presentation of the age group with the highest incidence of smear positive cases in the age group 55-74 years old 39.3%. Conclusion: Examination of acid fast bacilli in the sputum of patients cough ≥ 2 weeks needs to be done in order to determine the existence of bacteria mycobacterium tuberculosis.Tuberculosis is most common in males than in females in the age group 55-74 years old.Keyword: cough more than two weeks, tuberculosis, BTA.Abstrak: Batuk ≥ 2 minggu merupakan gejala utama diagnosis penyakit tuberkulosis yang disertai dengan dahak. Gejala yang menyertai yaitu batuk yang mengeluarkan darah, nafsu makan menurun, penurunan berat badan, keringat pada malam hari (tanpa aktifitas) dan ada tanda-tanda infeksi.Tuberkulosis paru ini adalah penyakit yang menyerang paru yang disebabkan oleh bakteri batang gram positif (Mycobakterium tuberkulosis).Penelitian ini merupakan penelitian deskritif bersifat ekperimen yaitu untuk mengetahui adanya kuman mycobacterium tuberkulosis pada sputum penderita batuk ≥ 2 minggu di Poliklinik Penyakit Dalam BLU RSUP.Prof. Dr. Kandou dengan di lakukan pemeriksaan BTA mengunakan pewarnaan ziehl neelsen.Hasil penelitian terdapat 50 sampel, 23 (46%) positif dan 27 (54%) negatif. Presentasi berdasarkan jenis kelamin dengan bta positif terbanyak pada jenis kelamin laki-laki 65,2% daripada perempuan 34,8%. Presentasi kelompok umur dengan bta positif terbanyak terjadi pada kelompok umur 55 – 74 tahun 39,3%. Simpulan: Pemeriksaan basil tahan asam (BTA) pada sputum penderita batuk ≥ 2 minggu perlu dilakukan agar mengetahui adanya kuman mycobacterium tuberkulosis. Tuberkulosis paling sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan pada kelompok umur 55 - 74 tahun.Kata Kunci: batuk lebih dari 2 minggu, tuberkulosis, BTA.
Petunjuk Penulis Penulis, Petunjuk
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.1062

Abstract

Petunjuk bagi (Calon) Penulis Menurut tata cara Vancouver modifikasi Curtin University, 2009 Jurnal e-CliniC  
PROFIL TUMOR JINAK KULIT DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF. DR. R. D KANDOU MANADO PERIODE 2009-2011 Gefilem, Grace Agustin
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.3291

Abstract

Abstract: Introduction: Benign skin tumor manifestation of chaos skin growths that are congenital or akuisita, without the invasive and metastatic tendency, can be derived from vascular and non-vascular. Benign tumors was often said to be dangerouly because it is not develop into malignant tumors, howver skin tumor needs to be understood because causing disability (ruin the appearance) and also at an advanced stage can be fatal in body health.Objective: To know the profile of patients benign skin tumor, age, gender and employment in the Dermatology Clinic Dr Prof Dr. R. D. Kandou Manado for 3 years (January 2009 - December 2011). Subjects and Methods: A retrospective study of benign skin tumor of the medical records of new patients based on tumor type, age, sex, and occupation.Results: There were 478 (15.65%) patients of benign skin tumor among 3055 new patients. Verruca vulgaris (28.03%) and seborrheic keratosis (24.69%) most frequently encountered. Highest age group is 15-44 years is 49.16%. The ratio of men and women for benign skin tumor is 1:1,12. Most jobs are housewives (26.36%). Conclusion: verruca vulgaris is the most benign skin tumor. Benign skin tumor was more common in women. Highest age group is 15-44 years. Most jobs are housewives.Keywords: skin tumors, benignAbstrakPendahuluan: Tumor jinak kulit merupakan manifestasi dari kekacauan pertumbuhan kulit yang bersifat kongenital atau akuisita, tanpa tendensi invasif dan metastasis, dapat berasal dari vaskuler dan non vaskuler. Tumor jinak sering dikatakan tidak berbahaya karena tidak sampai berkembang menjadi keganasan namun demikian, tumor kulit perlu dipahami karena selain menyebabkan kecacatan (merusak penampilan) juga pada stadium lanjut dapat berakibat fatal kesehatan tubuh.Tujuan: Mengetahui profil pasien tumor jinak kulit berdasarkan jenis tumor, umur, jenis kelamin dan pekerjaan di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado selama 3 tahun (Januari 2009- Desember 2011).Subyek dan Metode: Penelitian retrospektif tumor jinak kulit terhadap catatan medis kasus baru berdasarkan jenis tumor, usia, jenis kelamin, dan pekerjaan.Hasil: Terdapat 478 (15,65 %) pasien tumor jinak kulit di antara 3055 pasien baru. Veruka vulgaris (28,03%) dan keratosis seboroik (24,69%) paling sering dijumpai. Kelompok usia terbanyak adalah 15–44 tahun sejumlah 49,16%. Rasio laki-laki dan perempuan untuk tumor jinak kulit ialah 1:1,12. Pekerjaan terbanyak ialah ibu rumah tangga (26,36%).Kesimpulan: Veruka vulgaris merupakan tumor kulit jinak terbanyak. Tumor kulit jinak lebih sering terjadi pada perempuan. Kelompok usia tertinggi adalah 15–44 tahun. Pekerjaan terbanyak adalah ibu rumah tangga.Kata kunci: tumor kulit, jinak
POLA KUMAN DAN UJI KEPEKAANNYA TERHADAP ANTIBIOTIKA PADA PENDERITA OTITIS EKSTERNA DI POLIKLINIK THT-KL BLU RSU PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Suwu, Pingkan; Kountul, Constantyn; Waworuntu, Olivia
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.1.2013.1181

Abstract

Abstract: Otitis externa is an outer ear canal infection divided into acute and chronic forms based on the course of illness. In a study at Polyclinic ENT-TOS at Prof. dr. R. D. Kandou General Hospital Manado in 2011 it was found that from 5297 there were 440 (8.33%) cases of otitis externa. This study aimed to determine the pattern of bacteria and antibiotic sensitivity in patients with otitis externa in the Polyclinic ENT-TOS, Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital Manado during the period December 2012 - January 2013. This study was a descriptive prospective through a sampling technique of patients. Of the 20 samples tested, 18 (90%) showed the growth of bacteria, and two samples (10%) had no growth of bacteria. There were seven types of bacteria found consisting of  two samples (10%) of Branhamella catarrhalis, four samples (20%) of Staphylococcus epidermidis, two samples (10%) of Staphylococcus aureus, two samples (10%) of Acinetobacter anitratus, two samples (10%) of Enterobacter aerogenes, four samples (20%) of Alcaligenes faecalis, two samples (10%) of Proteus mirabilis, and two samples (10%) of no bacterial growth. The highest sensitivity antibiotic was levofloxacin in 14 samples (77.78%), while the highest resistant to antibiotics was ever getting clindamycin in 16 samples (88.89%). Conclusion: nearly all of the samples obtained from otitis externa patients in Polyclinic ENT-TOS, Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital Manado during the period December 2012 - January 2013 showed bacterial growth. Levofloxacin was the highest sensitive antibiotic while clindamycin and erythromycin were the highest resistant antibiotic among otitis externa patients in ENT-TOS Clinic of Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital, Manado Keywords: otitis externa, pattern of bacteria, sensitivity test.     Abstrak: Otitis eksterna adalah infeksi liang telinga luar yang menurut perjalanan penyakit terbagi atas bentuk akut dan kronis. Pada penelitian di Poliklinik THT-KL RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado pada tahun 2011 diperoleh dari 5.297 pengunjung terdapat 440 (8,33%) kasus otitis eksterna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kuman dan uji kepekaannya terhadap antibiotika pada penderita otitis eksterna di Poliklinik THT-KL BLU RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode Desember 2012 - Januari 2013. Penelitian ini bersifat prospektif deskriptif dan sampel diambil dari pasien Poliklinik THT-KL. Dari 20 sampel yang diuji, didapatkan 18 sampel (90%) menunjukkan pertumbuhan bakteri dan dua sampel (10%) tidak memperlihatkan pertumbuhan bakteri. Bakteri yang ditemukan tujuh jenis, terdiri dari Branhamella catarrhalis dua sampel (10%), Staphylococcus epidermidis empat sampel (20%), Staphylococcus aureus dua sampel (10%), Acinetobacter anitratus dua sampel (10%), Enterobacter aerogenes dua sampel (10%), Alcaligenes faecalis empat sampel (20%), Proteus mirabilis dua sampel (10%), dan tidak ada pertumbuhan bakteri sebanyak dua sampel (10%). Simpulan: hampir semua sampel yang diperoleh dari pasien otitis eksterna di Poliklinik THT-KL RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode Desember 2012 - Januari 2013 memperlihatkan pertumbuhan bakteri. Antibiotika yang kepekaannya paling tinggi ialah levofloxacin, sedangkan antibiotika yang resistensinya paling tinggi ialah clindamycin an erythromycin. Kata kunci: otitis eksterna, pola kuman, uji kepekaan.
GAMBARAN TEMUAN AUTOPSI KASUS TENGGELAM DI BLU RSU PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2007 - DESEMBER 2011 Wulur, Rifino A.
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.1.2013.3296

Abstract

Abstract: Drowning is one of asphyxia caused by the entry of fluid into the respiratory tract. Approximately 0.7% of all deaths worldwide or more than 500,000 deaths each year are caused by drowning. Increased access to water is another risks factor for drowning. Manado is a city located on the seaboard and is a risk factor for drowning. The purpose of this research was to know the description of autopsy findings in drowning cases in Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado Period January 2007 - December 2011. The research method used was a descriptive retrospective using secondary data obtained from the Forensic Medicine Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado. Based on inclusion criteria, sample that gained was 15 cases. The highest incidence occurred in 2010. Based on the characteristics of case, obtained 80% for men and about 86.67% in the group of adults. Autopsy findings are mushroom-like mass (13.33%), women's hand wash (13.33%), cadaveric spasm (6.67%), foreign material in airways and gastrointestinal (93.33%), signs of asphyxia (100 %), lung secretion positive examination (100%), and sign of other violence (86.67%).Keywords: forensic medicine, autopsy findings, drowningAbstrak: Tenggelam merupakan salah satu jenis asfiksia yang disebabkan masuknya cairan kedalam saluran pernapasan. Sekitar 0,7% kematian di seluruh dunia atau lebih dari 500.000 kematian setiap tahun disebabkan karena tenggelam. Peningkatan akses terhadap air merupakan salah satu faktor risiko tenggelam. Manado merupakan kota yang terletak dipesisir pantai dan merupakan faktor risiko terjadinya tenggelam. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Gambaran Temuan Autopsi Kasus Tenggelam di BLU RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari 2007 - Desember 2011. Desain penelitian yang digunakan yaitu deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari bagian Ilmu Kedokteran Forensik BLU RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Kriteria inklusi yaitu kasus mati tenggelam yang diautopsi. Berdasarkan kriteria inklusi didapatkan sampel sebanyak 15 kasus. Insiden tertinggi terjadi pada tahun 2010. Berdasarkan karakteristik kasus, didapatkan 80% terjadi pada laki-laki dan sekitar 86,67% terjadi pada kelompok dewasa. Temuan autopsi yaitu mushroom-like mass (13,33%), washer women’s hand (13,33%), cadaveric spasm (6,67%), benda asing dalam saluran napas dan pencernaan (93,33%), tanda asfiksia (100%), pemeriksaan getah paru positif (100%), dan tanda kekerasan lain (86,67%).Kata Kunci: kedokteran forensik, temuan autopsi, tenggelam
PROFIL GULA DARAH SEWAKTU (GDS) DAN GULA DARAH PUASA (GDP) PASIEN STROKE DENGAN DIABETES MELLITUS TIPE 2 YANG DI RAWAT INAP DI BAGIAN NEUROLOGI Prof. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI – DESEMBER 2011 Sengka, David
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.3655

Abstract

Abstract: Stroke is the number three killer right after heart diseases and cancer. Diabetes Mellitus is one of the modifiable risk factor of stroke. The goal of this research was to obtain the data profile of the random glucose level and the fasting glucose level in stroke patients diagnosed with type 2 DM. This research was a descriptive research with the subjects of the type 2 DM diagnosed patients with accountable random glucose level and fasting glucose level which were inpatient in Neurology Department of RSUP. Prof. R. D. Kandou Manado with a time period from January to December 2011. The sex, age, random glucose level and fasting glucose level profile were obtain from the data of medical records. There were 60 stroke patients who were also diagnosed with type 2 DM. Most of them were females (51.67%) with age of 40 to 59 years old (50%), and the most the fasting glucose level of ≥ 200mg/dl (53.33%) and the random glucose level of ≥ 126mg/dl (51.66%). Conclusions: The patients who were also diagnosed with type 2 DM were mostly females with the age of 40 to 59 years old. The data profile of the random glucose level and the fasting glucose level in stroke patients were mostly diagnosed with type 2 DM. This data will be able to help to determine the actions in order to treat and also to prevent stroke in type 2 DM patients. Key words: Stroke, Diabetes Mellitus, random glucose level, fasting glucose level   Abstrak: Stroke merupakan pembunuh nomor tiga setelah penyakit jantung dan kanker. Salah satu faktor risiko stroke yang dapat dimodifikasi adalah diabetes mellitus. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data profil gula darah sewaktu dan gula darah puasa pasien stroke dengan diabetes mellitus tipe 2. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif, subyek penelitian adalah pasien stroke dengan diabetes mellitus tipe 2 yang mempunyai hasil pemeriksaan gula darah sewaktu dan gula darah puasa dan di rawat inap di Bagian Neurologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari – Desember 2011. Jenis kelamin, Usia, Kadar gula darah sewaktu dan gula darah puasa dicatat dari data rekam medik. Terdapat 60 pasien yang mengalami stroke dengan diabetes mellitus tipe 2, sebagian besar adalah perempuan (51,67%), umur 40 – 59 (50%), kadar gula darah sewaktu terbanyak ≥ 200mg/dl (53,33%), kadar gula darah puasa terbanyak ≥ 126 (51,66%). Simpulan : Pasien stroke dengan diabetes mellitus tipe 2 didapatkan lebih banyak pada perempuan dengan usia 40 – 59 tahun. Profil gula darah sewaktu (GDS) dan gula darah puasa (GDP) terbanyak pada kategori terdiagnosis diabetes mellitus. Data ini dapat membantu menentukan kebijakan dalam upaya pencegahan dan penatalaksanaan stroke dengan diabetes mellitus tipe 2. Kata Kunci : Stroke, Diabetes Mellitus, gula darah sewaktu, gula darah puasa
Daftar Penyunting Penyunting, Daftar
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.1177

Abstract

Ketua Penyunting Sunny Wangko   Wakil Ketua Penyunting Sonny J. R. Kalangi   Penyunting Pelaksana Erwin Kristanto John J. Soucy Henoch Awaloei  Pengeset Gunawan Pratama  Pelaksana Tata Usaha Donny  Kaligis Joko Aryono
PROFIL PENYAKIT JANTUNG KORONER DI IRINA F JANTUNG RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO Syukri, Andi Eka Dharma Putra
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.6036

Abstract

Abstract: Heart and Blood Vessels Disease is the leading cause of cardiovascular disorder that mostly happened in developed or industrial country, related to new communicable disease or “infection” caused by imitation of unhealthy lifestyle.1 The cardiovascular disease divided into several type of heart disease such as; coronary heart disease (CHD) that caused by narrowing of of the coronary arteries due to deposition of fat gathering in and around the cells lining the walls of the coronary arteries and blocking of the blood flow. This research aimed to know the  CHD Profile in Irina F Jantung of RSUP Prof.Dr. R.D Kandou Manado in period of January-December 2010. This was retrospective-descriptive study that used medical records in Irina F Jantung of RSUP. Prof. Dr. R.D Kandou Manado. During this period of this research reported 230 cases of CHD; 69 cases (30%) byage groups 61-70 years old, 159 cases (69,13%) by gender and 86 cases were accompanied disease with the greatest proportion of Hypertension 52 cases (55,32%), and Old Myocardial Infarction (OMI) 71 cases (30,87%) as being the most clinical symptom. The frequency of Cardiovascular disease will be increasing every year if there’s no change of diet and unhealthy lifestyle by people in both urban and rural environments and other degenerative diseases are caused. Key words: Heart Disease, Coronary Heart Disease, Old Myocardial Infarction   ABSTRAK : Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (PJPD) adalah penyakit yang mengakibatkan gangguan jantung dan pembuluh darah, paling sering terjadi di negara maju atau negara industri akibat ‘penularan’ yang disebabkan peniruan gaya hidup kurang sehat.1 Penyakit Jantung ini terbagi dalam beberapa jenis penyakit jantung lainnya diantaranya adalah Penyakit Jantung Koroner (PJK) penyakit jantung yang disebabkan oleh penyempitan arteri koroner akibat dari berkumpulnya endapan lemak di dalam dan sekitar sel yang melapisi dinding arteri koroner sehingga menyumbat aliran darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Profil PJK di Irina F Jantung Rsup Prof. Dr. R. D Kandou Manado Periode Januari 2010 - Desember 2010. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metoderetrospektif menggunakan buku register di Irina F Jantung RSUP. Prof. Dr. R.D Kandou Manado periode Januari 2010 sampai Desember 2010. Selama periode Januari 2010 sampai Desember 2010 di Irina F Jantung Rsup Prof. Dr. R. D Kandou Manado tercatat 230 kasus PJK. Berdasarkan kelompok Umur 61-70 tahun sebanyak 69 kasus (30%), Jenis Kelamin sebanyak 159 kasus (69,13%), 86 kasus disertai penyakit penyerta yang terbanyak diantaranya Hipertensi 52 kasus (55,32%), dan manifestasi klinis yang didapat adalah Old Myocardial Infarction (OMI) sebanyak 71 kasus (30,87%). Setiap tahun frekuensi penyakit ini akan terus meningkat jika tidak di atur pola makan atau gaya hidup masyarakat yang kurang sehat, baik di lingkungan urban maupun rural dan disebabkan penyakit degeneratif lainnya. Kata kunci: Penyakit Jantung, Jantung Koroner, Old infark miokard

Page 1 of 3 | Total Record : 21