cover
Contact Name
Umbara
Contact Email
jurnalumbara@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalumbara@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
UMBARA Indonesian Journal of Anthropology
ISSN : 25282115     EISSN : 25281569     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2016)" : 14 Documents clear
Program Pemberdayaan Sebagai Aktivitas Corporate Social Responsibility Studi Kasus Pemberdayaan Penderes di Pangandaran Rahmad Efendi
Umbara Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.117 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v1i2.10163

Abstract

Abstract This article examines the phenomenon of the implementation of community empowerment program as the Corporate Social Responsibility (CSR) activity, which is used as a strategy to control the supply chain of raw materials. This paper prepared using qualitative research methods with field study at Pangandaran District, West Java. The Pangandaran Tappers Community Empowerment Program has been run by PT Ultrava since 2012 until 2014. The program is aimed to manage the brown sugar supply chain problems in Pangandaran that caused by the tappers. For that purpose, Ultrava running the govermentality agenda against all of the brown sugar supply chain actors in Pangandaran. The govermentality agenda use the biopolitic and subjectivity process, to change the tappers became the obedient subject to the will of Ultrava. Keywords : CSR, Empowerment, Govermentality Abstrak Artikel ini mengkaji fenomena pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat sebagai Corporate Social Responsibility (CSR), yang digunakan sebagai strategi untuk mengendalikan rantai pasokan bahan baku. Artikel ini disusun dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi lapangan di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Program Pemberdayaan Penderes Pangandaran telah dijalankan oleh PT Ultrava sejak 2012 hingga 2014. Program ini bertujuan untuk mengelola masalah rantai pasokan gula di Pangandaran yang disebabkan oleh penderes. Untuk itu, Ultrava menjalankan agenda govermentality terhadap semua pelaku rantai pasokan gula di Pangandaran. Agenda govermentality tersebut menggunakan proses biopolitic dan subjectivity, untuk mengubah penderes menjadi subyek yang patuh kepada kehendak Ultrava. Kata Kunci – CSR, Pemberdayaan, Kepengaturan
Menyelami Potret Pendidikan Indonesia Kini Tari Purwanti
Umbara Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.722 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v1i2.10292

Abstract

Tuan Tanah dan Lurah : Relasi Politik Lokal Patron-Client di Desa Sukorejo Kecamatan Godanglegi Kabupaten Malang dalam Kurun Waktu 2007-2013 Annise Sri Maftuchin
Umbara Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.895 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v1i2.9983

Abstract

ABSTRAKArtikel ini membahas mengenai pola politik pedesaan yang ada dan diterapkan di Desa Sukorejo Gondanglegi Malang. Relasi politik yang mengarah pada bentuk subsisten memberi peluang tersendiri bagi Lurah Desa Sukorejo untuk terpilih dalam periode kepemimpinan yang kedua. Sejak 2006 suara dan dukungan terus digalakan agar posisi lurah mampu dipertahankan. Padahal, dalam sekali pemelihan lurah, calon lurah harus mengeluarkan dana sebesar 300 Juta untuk para pendukungnya sedangkan, gaji yang diterima lurah di Sukorejo kisaran Rp.1.500.000- Rp.2.000.000,- dan tiga hektar tanah bengkok. Hal ini tentu menjadi ancaman ekonomi tersendiri bagi si calon lurah ketika dinyatakan gagal terpilih. Akan tetapi, kegagalan dapat diminimalisir ketika strategi patron-klien digunakan oleh Lurah Abdi. Pola  patron-klien sebelumnya telah dijabarkan oleh James C. Scott sebagai pola yang cukup umum digunakan dalam budaya pertanian subsisten seperti di Desa Sukorejo Gondang Legi Malang. Dari paparan pola patron-klien dijelaskan bahwa dalam  kebudayaan pertanian pedesaan Jawa, terdapat model  resiprositas  politik yang dijumpai antara tuan tanah dan masyarakat petani disekitarnya. Patron-klien yang diterapkan di Desa Sukorejo mengaitkan keberadaan tuan tanah sebagai basis kekuatan utama lewat sistem pertukaran atau resiprositas sepadan. Tentunya pola politik seperti ini memiliki keunikan tersendiri, dimana terdapat pola hubungan politik yang berbeda dari pola politik pada umumnya. Melalui metode penelitian etnografi ulasan data yang disajikan didasarkan atas pengamatan secara langsung baik melalui wawancara maupun observasi partisipasi. Kaitan metode penelitian etnografi dalam memaparkan pembahasan politik Desa Sukorejo, analisis difokuskan pada bagaimana pola dan korelasi sosial-budaya dibangun dalam relasi patron-klien antara tuan tanah dan kepala Desa Sukorejo dalam kurun waktu 2007-2013?  Dari fokus permasalahan tersebut, analisis diarahkan pada pola dan model serta kaitan sebab akibat yang terjadi dari proses relasi politik di Desa Sukorejo Gondanglegi Malang.Kata Kunci :Patrol-Klien, Politik Desa, Resiprositas, Subsisten, Tuan Tanah
Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Bandung Rina Hermawati; Caroline Paskarina; Nunung Runiawati
Umbara Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.124 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v1i2.10341

Abstract

Sebagai kota yang memiliki ciri heterogenitas sosial, Bandung menyimpan potensi konflik yang bersumber dari keberagaman identitas tersebut. Salahsatu sumber konflik yang rentan muncul di tengah-tengah masyarakat yang heterogen adalah konflik yang bersumber dari perbedaan agama. Artikel ini berupaya mengkaji toleransi dalam hubungan antarumat beragama di Kota Bandung yang diukur melalui seberapa jauh para pemeluk agama menentukan jarak sosial mereka terhadap para pemeluk agama lainnya. Dengan menggunakan metode kuantitatif, penulis mengukur nilai indeks toleransi malalui tiga dimensi utama yaitu persepsi, sikap dan kerjasama antar umat beragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indeks Toleransi antarumat Beragama di Kota Bandung sebesar 3,82 termasuk dalam kategori “Tinggi”, yang mengindikasikan bahwa interaksi sosial antarumat beragama di Kota Bandung telah berlangsung secara baik dan berada dalam batas-batas jarak sosial yang wajar. Kemungkinan konflik umumnya dipicu oleh perizinan pembangunan rumah ibadat yang berada dalam ranah kewenangan pemerintah, sehingga hal ini penting untuk dibenahi dalam rangka meningkatkan capaian Indeks Toleransi di Kota Bandung.

Page 2 of 2 | Total Record : 14