cover
Contact Name
Umbara
Contact Email
jurnalumbara@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalumbara@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
UMBARA Indonesian Journal of Anthropology
ISSN : 25282115     EISSN : 25281569     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2017)" : 14 Documents clear
Soekabumi The Untoldstory: Kisah di Balik Sejarah Sukabumi Rimbo Gunawan
Umbara Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.006 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v2i1.15677

Abstract

AbstrakBuku ini berisi sepuluh bab yang berusaha menjelaskan fase-fase sejarah Sukabumi. Penulis menyusun kerangka buku ini tidak secara linear historis tetapi berdasarkan kisah yang mempengaruhi sejarah, baik orang maupun peristiwa yang menjadi bahan pembicaraan. 
Mitos Rambut Gimbal: Identitas Budaya dan Komodifikasi di Dataran Tinggi Dieng Alfian Febriyanto; Selly Riawanti; Budhi Gunawan
Umbara Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.726 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v2i1.15670

Abstract

Abstract Myths become an integral part of society’s social and cultural life. This research examines the myth of rambut gimbal (dreadlock) as the cultural identity that is formed amids cultural commodification. This research finds that the identity formation does not occur at the micro but rather at the meso and makro level.  At the meso level, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) plays its role in identity formation and the commodification of myth. At the macro level,  government’s effort to promote rambut gimbal cutting ceremony as one of cultural festivals and tourism commodity demonstrates a formal legitimation of the cultural identity and the myth commodification. Keywords: commodification, Dieng, ethnogenesis, myth, gimbal, identity AbstrakMitos menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Penelitian ini membahas kaitan antara mitos dengan pembentukan identitas budaya pada suatu masyarakat ditengah terjadinya komodifikasi budaya. Penelitian ini menitikberatkan pada kajian mengenai proses pembentukan identitas budaya oleh masyarakat di dataran tinggi Dieng melalui pelestarian mitos rambut gimbal dan proses komodifikasi mitos rambut gimbal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembentukan identitas dan komodifikasi rambut gimbal tidak terjadi di aras mikro tetapi di aras meso dan makro. Pada aras meso, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) berperan dalam pembentukan identitas dan komodifikasi mitos. Pada aras makro, pemerintah berperan dalam memberikan legitimasi formal pada identitas yang dibentuk di level meso. Kata kunci: Komodifikasi, Dieng, etnogenesis, mitos, gimbal, identitas
Logika Antropologi: Suatu Percakapan (Imajiner) Mengenai Dasar Paradigma. Arief Wicaksono
Umbara Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.264 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v2i1.15676

Abstract

AbstrakBuku Logika Antropologi: Suatu Percakapan (Imajiner) Mengenai Dasar Paradigma merupakan salah satu buku yang membahas mengenai teori-teori dalam antropologi dengan model yang tidak (kurang) biasa. Pembahasan mengenai teori disampaikan dalam model percakapan dua orang (yang sebenarnya merupakan percakapan satu orang atau diri sendiri percakapan imajiner dari diri penulis buku). 
“Wase Glee”: Dari Kearifan Hingga Kenaifan Lokal Para Peramu Hasil Hutan di Aceh Pangeran Nasution
Umbara Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.373 KB) | DOI: 10.24198/umbara.v2i1.15672

Abstract

Abstract Local wisdom remained as an important discourse in the society. It directs mutual awareness of self-worth and respect for a lofty and sustainable local cultural treasury. This article describes ‘Wase Glee’, the cultural knowledge of forest product utilization in Aceh. Wase glee is  a manifestation of local wisdom which includes guidelines and taboos (adat meuglee: adat encroachment) in Gampong Alue Bieng, Aceh Utara District, Aceh Province.‘Wase glee’ has been examined in the provisions of Qanun, the sharia-based regulation that revitalizes and reinforces indigenous institutions in Aceh society. It  encompasses perspectives and activities which contain  customary values. Ironically, the recognition of customary institutions which are accompanied by various arrangements of community activities creates an arbitrary slit by those in the customary authority. This article also aims to discuss local wisdom in environmental management especially related to forest resources, and also how the authority contained in the qanun that should present wisdom for the life of the community, it becomes a naive fact that tends to be exploitative. This paper is presented based on data obtained by qualitative research methods. Primary data was obtained from field research via interview (indepth) with categoryinformants: ureung meuglee (forest encroachers), traditional elders, and related gampong officials. The narrative notion in this paper refers to the ethno-sciences approach as the axis of analytic nodes present in the overall exposure of this article. Keywords: Local Wisdom, Gatherer, Forest, Wase Glee, Ureung Meuglee  Abstrak Kearifan lokal adalah wacana penting dari kehidupan manusia yang hingga kini masih menjadi entitas sara budaya yang unggul dan menarik untuk diperbincangkan. Kearifan lokal mengarahkan kesadaran bersama manusia mengenai kepatutan diri dan penghargaan atas khasanah budaya lokal yang adiluhung dan lestari. Artikel memaparkan pengetahuan budaya peramu hasil hutan pada satu rumpun etnik di Indonesia, yaitu pada masyarakat Aceh yang mengenal Wase Glee (pemanfaatan hasil hutan) sebagai manifestasi kearifan lokal yang meliputi petunjuk anjuran dan pantangan (adat meuglee: adat merambah hutan) pada masyarakat Gampong Alue Bieng, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Adat wase glee dicermati dalam ketentuan Qanun, regulasi berbasis syariah yang merevitalisasi dan menguatkan kembali kelembagaan adat pada masyarakat Aceh, meliputi cara pandang dan aktivitas yang mengandung nilai-nilai adat. Ironisnya, pengakuan lembaga adat yang turut disertai dengan berbagai pengaturan kegiatan masyarakat menciptakan celah kesewenangan oleh mereka yang memangku kewenangan adat. Artikel ini juga bertujuan membahas tentang kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan terutama yang berhubungan dengan sumber daya hutan, dan juga bagaimana kewenangan yang terdapat dalam qanun yang semestinya menghadirkan kearifan bagi kehidupan masyarakat, justru menjadi kenyataan naif yang cenderung eksploitatif. Artikel ini disajikan berdasarkan data yang diperoleh dengan metode penelitian kualitatif. Data primer diperoleh dari penelitian lapangan via wawancara (indepth) dengan kategori informan: ureungmeuglee (perambah hutan), tetua adat, dan aparat gampong terkait. Gagasan naratif dalam artikel ini mengacu pada pendekatan etnosains sebagai poros simpul analitik yang hadir dalam keseluruhan paparan artikel ini. Kata kunci: Kearifan Lokal, Peramu hasil hutan, Wase Glee, Ureung

Page 2 of 2 | Total Record : 14